Kasus Terus Meningkat, Dinkes Pati Minta Warga Jangan Abaikan Demam dan Nyeri Betis

- Jurnalis

Rabu, 24 Juni 2026 - 13:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Tim Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Pati, Yanti (kanan), bersama Pengelola Program HIV dan Zoonosis, Agus Irawan (kiri), saat wawancara terkait penanganan HIV/AIDS di Kantor Dinkes Kabupaten Pati. (Foto:JP)

Ketua Tim Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Pati, Yanti (kanan), bersama Pengelola Program HIV dan Zoonosis, Agus Irawan (kiri), saat wawancara terkait penanganan HIV/AIDS di Kantor Dinkes Kabupaten Pati. (Foto:JP)

Jurnalpantura.id, Pati – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap leptospirosis, penyakit yang ditularkan melalui bakteri Leptospira yang terdapat dalam urine tikus.

Ketua Tim Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Pati, Yanti Purnomo, mengungkapkan kasus leptospirosis dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren peningkatan.

Pada 2022 tercatat sebanyak 28 kasus, kemudian meningkat menjadi 37 kasus pada 2023. Sempat turun menjadi 22 kasus di 2024, jumlah tersebut kembali melonjak menjadi 61 kasus pada 2025 dan mencapai 172 kasus hingga Mei 2026.

“Kasus leptospirosis biasanya meningkat pada awal tahun saat musim penghujan. Kabupaten Pati sebagai daerah pertanian memiliki kelompok masyarakat yang cukup rentan, terutama petani, nelayan, dan pekerja tambak yang sering bersentuhan dengan lingkungan yang berpotensi tercemar urine tikus,” ujarnya.

Ia menjelaskan, penularan leptospirosis dapat terjadi ketika bakteri masuk melalui luka terbuka yang kontak dengan air atau tanah yang telah terkontaminasi urine tikus. Bahkan, penularan juga bisa terjadi melalui makanan atau minuman yang terkena urine tikus.

“Di Semarang pernah ditemukan kasus yang diduga berasal dari kaleng minuman yang terkena urine tikus dan tidak dicuci terlebih dahulu sebelum dikonsumsi,” katanya.

Berdasarkan data Dinkes Pati, angka kematian akibat leptospirosis juga masih menjadi perhatian. Pada 2025 tercatat 17 kematian akibat penyakit tersebut, sedangkan pada 2026 hingga saat ini telah ditemukan 21 kasus.

Baca Juga :  Sukseskan Program Vaksinasi, Yellow Clinic DPD Golkar Kudus Siapkan 20 Ribu Vaksin

Gejala leptospirosis umumnya berupa demam, mual, muntah, dan keluhan yang menyerupai flu, demam berdarah, maupun tifus. Namun terdapat gejala khas berupa nyeri atau kekakuan pada otot betis serta mata merah atau kekuningan.

“Kalau sudah berat biasanya produksi urine berkurang karena ginjal mulai mengalami gangguan. Karena itu masyarakat yang mengalami gejala tersebut segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan,” jelasnya.

Untuk menekan angka kasus dan kematian, Dinkes Pati terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat dengan melibatkan pemerintah desa, kecamatan, dan puskesmas. Selain itu, deteksi dini terhadap kasus suspek leptospirosis juga terus diperkuat agar pasien dapat segera mendapatkan pengobatan yang tepat.

Masyarakat juga diimbau menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan alat pelindung diri (APD) saat bekerja di sawah maupun tambak, mencuci tangan sebelum makan, membersihkan luka yang terkena air sawah, serta menyimpan makanan dan minuman di tempat tertutup.

“Kematian akibat leptospirosis sebenarnya bisa dicegah apabila penderita mendapatkan penanganan secara dini dan sesuai standar. Karena itu jangan menunggu kondisi parah untuk berobat,” tegasnya.

Selain menjaga kebersihan lingkungan, Dinkes juga mengimbau masyarakat melakukan pengendalian tikus secara terpadu. Tikus yang mati sebaiknya dibakar atau dikubur dengan terlebih dahulu diberikan kaporit atau disinfektan guna mencegah penyebaran penyakit. (J07/A01)

Berita Terkait

IGD RSUD Kudus Makin Padat, Kasus Infeksi Meningkat sejak Awal September
Kasus ISPA Meningkat di Tengah Cuaca Ekstrem, DKK Kudus Ingatkan Pentingnya Cukupi Cairan
Seleksi Nakes Teladan 2026, DKK Kudus Turunkan Tim Verifikasi Lapangan
Dua Remaja di Kudus Ditemukan Terpapar HIV, KPA Soroti Gaya Hidup Seks Bebas
Didominasi Faktor Risiko LSL, 108 Kasus HIV Ditemukan di Kudus Selama Pertengahan 2026
BPJS Kesehatan Dorong Transformasi Layanan Jantung Berbasis Outcome
Investasi RSUD Sunan Muria Kudus Diproyeksikan Rp 250 Miliar, Dua Investor Nyatakan Minat
Tekan Angka Kematian Ibu, DKK Kudus Gandeng PKK Luncurkan Kencan Bumil dan Parijata
Berita ini 103 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 15:59 WIB

IGD RSUD Kudus Makin Padat, Kasus Infeksi Meningkat sejak Awal September

Rabu, 23 September 2026 - 11:58 WIB

Kasus ISPA Meningkat di Tengah Cuaca Ekstrem, DKK Kudus Ingatkan Pentingnya Cukupi Cairan

Selasa, 22 September 2026 - 16:14 WIB

Seleksi Nakes Teladan 2026, DKK Kudus Turunkan Tim Verifikasi Lapangan

Selasa, 22 September 2026 - 15:13 WIB

Dua Remaja di Kudus Ditemukan Terpapar HIV, KPA Soroti Gaya Hidup Seks Bebas

Selasa, 22 September 2026 - 13:57 WIB

Didominasi Faktor Risiko LSL, 108 Kasus HIV Ditemukan di Kudus Selama Pertengahan 2026

Berita Terbaru