Tekan Angka Kematian Ibu, DKK Kudus Gandeng PKK Luncurkan Kencan Bumil dan Parijata

- Jurnalis

Senin, 14 September 2026 - 14:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Peluncuran inovasi Kencan Bumil dan Parijata di Balai Desa Getassrabi, Kecamatan Gebog, Senin, 14/9/2026. (Foto: Istimewa)

Peluncuran inovasi Kencan Bumil dan Parijata di Balai Desa Getassrabi, Kecamatan Gebog, Senin, 14/9/2026. (Foto: Istimewa)

Jurnalpantura.id, Kudus – Kasus kematian ibu masih menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Kudus. Hingga September 2026, Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus mencatat sedikitnya lima kasus kematian ibu yang terjadi sejak awal tahun.

Sebagai langkah pencegahan, DKK Kudus bersama Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kudus meluncurkan inovasi Kencan Bumil dan Parijata di Balai Desa Getassrabi, Kecamatan Gebog, Senin, 14/9/2026.

Kencan Bumil merupakan kependekan dari Kenali dan Cek Kesehatan Ibu Hamil. Sementara Parijata berarti Pantau Risiko Tinggi Ibu Hamil, Jangan Ada Kematian Ibu dan Bayi Lagi. Kedua program tersebut dirancang untuk memperkuat pemantauan ibu hamil sejak masa awal kehamilan hingga menjelang persalinan.

Ketua TP PKK Kabupaten Kudus, Endhah Sam’ani Intakoris, mengatakan pencegahan kematian ibu dan bayi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Menurutnya, pendampingan tidak cukup dilakukan oleh tenaga kesehatan saja, tetapi harus berjalan secara terpadu dan berkelanjutan.

“Jalan bareng, koordinasi bersama antara PKK, Dinas Kesehatan, puskesmas, bidan desa, dan para kader. Kita ingin ibu hamil mendapatkan pendampingan dengan baik sehingga risiko dapat diketahui lebih awal dan tidak terjadi kasus kematian ibu maupun bayi,” kata Endhah.

Dalam program Kencan Bumil, setiap ibu hamil akan mendapatkan pendampingan dari seorang kader kesehatan. Kader bertugas membantu memantau kondisi ibu, memberikan edukasi, sekaligus memastikan pemeriksaan kehamilan dan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dapat diperoleh secara rutin.

Adapun Parijata menyasar ibu hamil yang masuk kategori risiko tinggi. Pendampingan terhadap kelompok ini dilakukan lebih intensif dengan melibatkan kader serta bidan desa yang bertugas memantau sekaligus memastikan kondisi ibu mendapatkan penanganan sesuai kebutuhan.

Baca Juga :  RS Mardi Rahayu Terima Penghargaan Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan Kelas B Terbaik Kudus

“Untuk ibu hamil risiko tinggi, pendampingannya lebih khusus. Kader bersama bidan desa harus mengetahui kondisi ibu dan melakukan pemantauan, sehingga apabila ada risiko bisa segera ditindaklanjuti,” jelas Endhah.

Kepala DKK Kudus, dr. Abdul Hakam, menyebut Desa Getassrabi dipilih sebagai lokasi peluncuran karena Kecamatan Gebog menjadi wilayah dengan kasus kematian ibu terbanyak. Dari lima kasus yang tercatat di Kudus, empat di antaranya terjadi di Kecamatan Gebog.

“Jadi, di Desa Getassrabi karena memang, saya tahu di Kudus itu ada lima kematian ibu hamil, ya. Empat kasus di antaranya itu daerah Kecamatan Gebog. Tujuan kami agar pemantauan ibu hamil bisa optimal,” tandasnya.

Hakam menambahkan, salah satu persoalan yang ditemukan berkaitan dengan masih adanya kehamilan pada usia berisiko tinggi.

Ia menyebut kehamilan pada perempuan berusia di atas 35 tahun memiliki risiko yang perlu mendapat perhatian lebih serius, sehingga penguatan edukasi dan program keluarga berencana menjadi bagian penting dalam pencegahan.

“Penyebabnya, itu ternyata salah satunya karena proses untuk KB-nya itu kan problem di kita itu, satu dari tiga itu usia 42 tahun, bayangin. Intinya di atas 35 tahun itu masih hamil, jadi risiko tinggi memang,” terangnya.

Melalui Kencan Bumil dan Parijata, DKK Kudus berharap pemantauan kondisi ibu hamil dapat dilakukan lebih cepat dan menyeluruh. Program tersebut juga diharapkan menjadi salah satu strategi untuk mendeteksi faktor risiko sejak dini sehingga penanganan dapat segera dilakukan dan angka kematian ibu maupun bayi di Kudus dapat ditekan. (J05/A01)

Berita Terkait

IGD RSUD Kudus Makin Padat, Kasus Infeksi Meningkat sejak Awal September
Kasus ISPA Meningkat di Tengah Cuaca Ekstrem, DKK Kudus Ingatkan Pentingnya Cukupi Cairan
Seleksi Nakes Teladan 2026, DKK Kudus Turunkan Tim Verifikasi Lapangan
Dua Remaja di Kudus Ditemukan Terpapar HIV, KPA Soroti Gaya Hidup Seks Bebas
Didominasi Faktor Risiko LSL, 108 Kasus HIV Ditemukan di Kudus Selama Pertengahan 2026
BPJS Kesehatan Dorong Transformasi Layanan Jantung Berbasis Outcome
Investasi RSUD Sunan Muria Kudus Diproyeksikan Rp 250 Miliar, Dua Investor Nyatakan Minat
Kudus Jadi Magnet Persalinan, Lebih dari 1.000 Ibu Datang dari Luar Daerah
Berita ini 22 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 15:59 WIB

IGD RSUD Kudus Makin Padat, Kasus Infeksi Meningkat sejak Awal September

Rabu, 23 September 2026 - 11:58 WIB

Kasus ISPA Meningkat di Tengah Cuaca Ekstrem, DKK Kudus Ingatkan Pentingnya Cukupi Cairan

Selasa, 22 September 2026 - 16:14 WIB

Seleksi Nakes Teladan 2026, DKK Kudus Turunkan Tim Verifikasi Lapangan

Selasa, 22 September 2026 - 15:13 WIB

Dua Remaja di Kudus Ditemukan Terpapar HIV, KPA Soroti Gaya Hidup Seks Bebas

Selasa, 22 September 2026 - 13:57 WIB

Didominasi Faktor Risiko LSL, 108 Kasus HIV Ditemukan di Kudus Selama Pertengahan 2026

Berita Terbaru