Jurnalpantura.id, Kudus – Tingkat inflasi Kabupaten Kudus secara tahunan pada September 2026 tercatat sebesar 3,16 persen. Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan inflasi Jawa Tengah yang berada di level 3,18 persen pada periode yang sama.
Data tersebut disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kudus, Eko Suharto, dalam Press Release di Kantor BPS Kudus, Jumat (2/10/2026). Selain mencatat perkembangan inflasi tahunan, BPS juga mencatat adanya kenaikan harga secara bulanan di Kudus.
“Inflasi September 2026 secara month to month sebesar 0,32 persen,” kata Eko seusai kegiatan Press Release.
Berdasarkan pemantauan BPS, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kabupaten Kudus pada September 2026 mencapai 112,21. Sementara jika dibandingkan dengan Desember 2025, inflasi tahun kalender Kudus hingga September tercatat sebesar 2,06 persen.
Kenaikan harga pada September terutama dipengaruhi kelompok makanan, minuman dan tembakau. Kelompok tersebut mengalami inflasi sebesar 0,95 persen dan memberikan andil 0,27 persen terhadap inflasi umum secara bulanan.
Beras menjadi komoditas dengan kontribusi inflasi bulanan paling besar, yakni 0,07 persen. Berikutnya terdapat cabai rawit sebesar 0,06 persen, telur ayam ras dan daging ayam ras masing-masing 0,04 persen, serta cabai merah dengan andil 0,03 persen.
“Komoditas makanan masih menjadi salah satu faktor yang memberikan andil terhadap inflasi di Kudus pada September,” jelas Eko.
Selain kebutuhan pangan, sejumlah kelompok pengeluaran lainnya juga mengalami kenaikan harga. Kelompok kesehatan mencatat inflasi 0,35 persen, transportasi 0,21 persen, informasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,19 persen, serta pendidikan sebesar 0,22 persen.
Namun, tidak seluruh kelompok pengeluaran mengalami kenaikan. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya justru mencatat deflasi 0,24 persen dengan andil sebesar 0,02 persen terhadap penurunan inflasi.
Beberapa komoditas tercatat mengalami penurunan harga dan turut menahan laju inflasi. Di antaranya emas perhiasan, bawang merah, jeruk, ketimun, serta tomat.
Secara tahunan, kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi salah satu penyumbang inflasi terbesar di Kudus. Kelompok tersebut mengalami inflasi 3,94 persen dengan andil sebesar 1,09 persen.
Kelompok transportasi juga memberikan tekanan terhadap inflasi tahunan. Pada September 2026, kelompok tersebut mengalami inflasi sebesar 4,27 persen dengan andil 0,51 persen.
Sejumlah komoditas memberikan kontribusi terhadap inflasi tahunan Kudus. Bensin menjadi salah satu penyumbang terbesar dengan andil 0,30 persen, disusul beras 0,29 persen, emas perhiasan 0,18 persen, telepon seluler 0,15 persen, serta daging ayam ras sebesar 0,14 persen.
Di sisi lain, terdapat sejumlah komoditas yang justru memberikan andil deflasi secara tahunan. Telur ayam ras tercatat menyumbang deflasi 0,07 persen, bawang merah 0,11 persen, kelapa 0,04 persen, cabai merah 0,04 persen, dan pisang 0,02 persen.
Jika dibandingkan dengan Jawa Tengah, inflasi tahunan Kudus pada September 2026 yang mencapai 3,16 persen berada sedikit di bawah angka provinsi sebesar 3,18 persen. Untuk inflasi bulanan, Kudus mencatat 0,32 persen, sedangkan Jawa Tengah berada di angka 0,31 persen.
Eko menyebut perkembangan angka inflasi tersebut menjadi bagian dari pemantauan terhadap perubahan harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Data IHK dan inflasi digunakan untuk menggambarkan dinamika harga di daerah dari waktu ke waktu.
Dengan capaian inflasi tahunan 3,16 persen, perkembangan harga di Kudus hingga September 2026 menunjukkan adanya tekanan dari sejumlah komoditas, terutama kelompok pangan dan transportasi. Pada saat yang sama, penurunan harga beberapa komoditas turut menjadi faktor yang menahan laju inflasi. (J02/A01)










