Jurnalpantura.id, Kudus – Jumlah perajin Caping Kalo di Kabupaten Kudus semakin menyusut dari tahun ke tahun.
Di tengah kondisi tersebut, Kamto (58), warga Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, memilih tetap bertahan menekuni kerajinan tradisional yang telah diwariskan keluarganya selama beberapa generasi, meski harus menghadapi berbagai keterbatasan.
Kamto menuturkan, dirinya merupakan generasi keempat pembuat Caping Kalo dalam keluarganya. Keputusan untuk terus melanjutkan kerajinan tersebut tidak lepas dari pesan sang ayah yang meminta agar warisan budaya itu tetap dijaga dan diteruskan.
“Bapak sebelum meninggal mewasiati saya untuk melanjutkan Caping Kalo,” ujarnya.
Meski demikian, perjalanan Kamto untuk menjadi perajin Caping Kalo tidak selalu mudah. Pada awalnya ia sempat merasa tidak percaya diri karena tidak memiliki kemampuan membuat anyaman halus yang menjadi bagian penting dari caping khas Kudus tersebut.
Namun, ia akhirnya memilih melanjutkan usaha keluarga sesuai kemampuan yang dimiliki. Selama bertahun-tahun, Kamto bekerja sama dengan almarhumah Rudipah yang dikenal memiliki keahlian membuat anyaman halus atau alusan Caping Kalo.
“Saya waktu itu berpikir tidak bisa membuat semuanya. Akhirnya saya meneruskan pekerjaan bapak dan bekerja sama dengan Bu Rudipah,” katanya.
Dalam proses produksinya, Rudipah mengerjakan bagian anyaman halus, sementara Kamto bertanggung jawab menyatukan seluruh komponen hingga menjadi Caping Kalo yang siap digunakan. Kolaborasi tersebut berjalan cukup lama sebelum akhirnya Rudipah meninggal dunia.
Menurut Kamto, pembuatan Caping Kalo tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Setiap bagian memiliki tingkat kesulitan dan membutuhkan keterampilan yang berbeda. Dahulu, satu keluarga biasanya mengerjakan seluruh tahapan secara bersama-sama.
“Ada yang membuat bagian halus, ada yang membuat bagian dalam, lalu ada yang merangkai sampai menjadi caping utuh,” tuturnya.
Salah satu teknik yang masih dipertahankan hingga kini adalah jejet, yakni metode menjahit seluruh bagian Caping Kalo secara manual. Teknik tradisional tersebut membuat caping dapat menyatu kuat tanpa menggunakan paku maupun lem.
“Bukan dipaku atau ditempel. Semua dijahit atau dijejet,” jelasnya.
Karena seluruh proses masih dilakukan secara tradisional, waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu Caping Kalo terbilang cukup panjang. Ketelitian menjadi kunci agar bentuk dan kualitas kerajinan tetap terjaga.
Di balik upayanya melestarikan Caping Kalo, Kamto mengakui bahwa kerajinan tersebut belum mampu menjadi sumber pendapatan utama. Penghasilan yang diperoleh dinilai belum sebanding dengan tenaga dan waktu yang harus dicurahkan dalam proses pembuatannya.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, ia juga bekerja sebagai tukang parkir. Pekerjaan itu menjadi penopang ekonomi keluarga di tengah minimnya keuntungan dari kerajinan Caping Kalo.
Menurutnya, faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab semakin sedikitnya generasi muda yang tertarik menjadi perajin. Meski satu Caping Kalo bisa dijual sekitar Rp500 ribu, proses pembuatannya membutuhkan waktu lama dan biaya produksi yang tidak sedikit.
Bahkan, untuk membuat bagian anyaman halus saja bisa memakan waktu hingga satu minggu. Kondisi tersebut membuat banyak anak muda lebih memilih pekerjaan lain yang dianggap lebih menjanjikan.
“Kalau dihitung dari tenaga dan waktunya memang tidak sebanding. Anak-anak sekarang lebih memilih kerja di pabrik atau pekerjaan lain yang penghasilannya lebih pasti,” ungkapnya.
Kini, setelah jumlah perajin semakin berkurang dan mitranya telah berpulang, Kamto berharap ada generasi penerus yang mau mempelajari teknik pembuatan Caping Kalo, khususnya anyaman halus yang menjadi ciri khas kerajinan tersebut.
Ia khawatir jika tidak ada regenerasi, salah satu warisan budaya khas Kudus itu akan semakin sulit ditemukan dan berpotensi hilang di masa mendatang.
“Kalau tidak ada yang meneruskan, nanti bisa hilang. Padahal ini warisan dari orang-orang dulu,” tandasnya. (J02/A01)










