Jurnalpantura.id, Kudus – Edukasi mengenai pemilahan sampah dan daur ulang diberikan kepada siswa SMP 1 Jati Kudus melalui program KreseK Goes to School yang digelar komunitas pegiat lingkungan KereseK ID, Sabtu 03/10/2026.
Selain mendapatkan materi, para siswa juga diajak mempraktikkan langsung pemanfaatan limbah menjadi barang yang memiliki nilai guna.
Kresek.id (Kreasi Sampah, Ekonomi Kota) merupakan komunitas sosial dan lingkungan di Kabupaten Kudus yang berfokus pada pengelolaan sampah, bank sampah, serta edukasi daur ulang
Koordinator Kresek.id Faisal Adam, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari program edukasi lingkungan yang secara berkelanjutan menyasar kalangan pelajar mulai jenjang SD hingga SMA.
Menurutnya, lingkungan sekolah menjadi salah satu tempat strategis untuk membangun kebiasaan peduli terhadap sampah sejak usia dini.
“Program ini bertujuan memberikan pemahaman mendalam kepada siswa mengenai pengelolaan sampah yang baik dan benar. Kita ajarkan bagaimana cara memilah sampah organik, anorganik, residu, hingga limbah B3. Dengan pemahaman ini, siswa diharapkan mampu memilah sampah sesuai jenisnya, bukan lagi asal buang ke tempat sampah,” ujar Faisal saat ditemui di lokasi.
Materi yang diberikan tidak hanya berupa penjelasan di dalam kelas. Tim Kresek.id juga mengajak para siswa mengikuti praktik pengolahan limbah secara langsung sehingga mereka dapat melihat bahwa barang bekas masih dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produk sederhana.
Salah satu praktik yang dikenalkan yakni pembuatan gantungan kunci dari kemasan plastik bekas. Siswa diperlihatkan tahapan memanfaatkan bungkus kopi maupun kemasan makanan ringan untuk diolah menjadi benda yang dapat digunakan kembali.
“Kami memberikan materi cara membuat gantungan kunci dari bungkus plastik bekas, mulai dari bungkus kopi hingga kemasan makanan ringan lainnya. Tujuannya sederhana namun krusial, yaitu agar siswa bisa memanfaatkan sampah yang ada di sekitar mereka secara kreatif,” jelas Faisal.
Ia menilai kegiatan tersebut cukup mudah diterapkan kembali oleh siswa di rumah. Bahan seperti kemasan kopi bekas dan benang juga relatif mudah ditemukan, sehingga keterampilan sederhana itu dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi jumlah sampah rumah tangga.
Faisal mengatakan, pemilihan pelajar sebagai sasaran edukasi juga berkaitan dengan persoalan sampah yang masih menjadi pekerjaan bersama di Kabupaten Kudus. Kebiasaan mengelola sampah sejak sekolah dinilai dapat membantu membentuk perilaku yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
“Permasalahan sampah di Kudus masih belum selesai sepenuhnya. Oleh karena itu, kita ingin menyasar usia anak-anak agar mereka tidak hanya sadar, tetapi juga terbiasa dengan gaya hidup minim sampah. Harapannya, saat mereka dewasa dan terjun ke masyarakat, mereka akan lebih paham terkait permasalahan sampah dan sudah memiliki keterampilan untuk mengolahnya sendiri,” ungkapnya.
Selama kegiatan berlangsung, para siswa tampak mengikuti setiap sesi dengan antusias. Mereka tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai pentingnya membuang sampah pada tempat yang sesuai, tetapi juga diperkenalkan pada konsep bahwa sampah tertentu masih dapat diolah kembali.
Menurut Faisal, kebiasaan tersebut diharapkan tidak berhenti selama kegiatan di sekolah. Siswa diharapkan dapat membawa pengetahuan yang diperoleh untuk diterapkan di lingkungan rumah dan mengajak anggota keluarga turut melakukan pemilahan maupun pemanfaatan kembali barang bekas.
“Harapannya, melalui kegiatan ini, anak-anak sejak dini sudah memiliki kesadaran kritis tentang isu sampah. Kebiasaan memilah sampah dan mendaur ulang yang kita ajarkan di sini bisa dipraktikkan juga di rumah,” katanya.
Keresek.id berencana terus memperluas kegiatan edukasi serupa ke sekolah-sekolah lain di Kabupaten Kudus.
Melalui pendekatan yang memadukan pengetahuan dan praktik, komunitas tersebut berharap semakin banyak generasi muda yang terbiasa mengelola sampah secara bijak dalam kehidupan sehari-hari. (J02/A01)










