Jurnalpantura.id, Kudus – Guna menyongsong agenda besar pariwisata nasional pada tahun 2027, Pemerintah Kabupaten Kudus mengambil langkah proaktif dengan mulai mempersiapkan tata kelola destinasi serta fasilitas pendukung berkonsep pariwisata ramah muslim di berbagai sektor.
Dalam merintis program strategis ini, sejumlah pelaku usaha kuliner, destinasi rekreasi populer, hingga sektor perhotelan dan akomodasi di wilayah Kudus telah dipilih secara khusus untuk menjadi garda terdepan sebagai proyek percontohan (pilot project).
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus, Abdul Halil, meluruskan pemahaman publik agar tidak salah mengartikan kebijakan tersebut.
Ia menegaskan bahwa konsep pariwisata ramah muslim tidak bertujuan mengubah total seluruh destinasi wisata yang ada menjadi kawasan wisata syariah.
“Wisata ramah muslim itu bukan terus seperti wisata syariah. Tetapi menyediakan fasilitas yang muslim friendly,” ujarnya, Rabu, 23/9/2026.
Abdul Halil merinci lebih lanjut bahwa fasilitas penunjang yang disiapkan meliputi penyediaan petunjuk arah kiblat beserta kitab suci di dalam kamar penginapan, penyediaan sarana tempat wudu yang representatif, hingga penataan fasilitas tertentu guna menjaga privasi pengunjung.
Sementara itu, Subkoordinator Promosi Wisata Disbudpar Kabupaten Kudus, Esti Aristiana Sukmawati, menjelaskan bahwa pihaknya telah menetapkan sejumlah titik strategis lintas sektor untuk mengawali langkah percontohan ini secara konkret.
Pada sektor kuliner, rumah makan Soto Djatmi dan GASASA dipercaya untuk ikut serta. Adapun dari sektor destinasi wisata, penunjukan jatuh pada Museum Jenang dan Kretek Waterpark, sementara sektor akomodasi diwakili oleh Hotel Sapphire dan Hotel Salimna.
“Lima itu yang kita jadikan pilot project. Nanti mudah-mudahan yang lain bisa mengikuti juga,” kata Esti.
Selain infrastruktur fisik dan akomodasi, jangkauan program ini juga menyentuh produk-produk lokal dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pemerintah memastikan adanya penguatan jaminan kehalalan produk guna memberikan rasa aman yang optimal bagi wisatawan.
Sebagai penyempurna ekosistem, Disbudpar Kudus turut memaksimalkan layanan informasi digital melalui pembaruan Tourism Information Center (TIC) online agar wisatawan dapat mengakses data lokasi, fasilitas, hingga rute peta secara lengkap dan mudah.
“Kita memperbarui informasi yang disampaikan di sana. Harapannya akan lebih komprehensif ketika diakses wisatawan, termasuk ada petunjuk dan maps sehingga wisatawan lebih mudah menuju destinasi,” harap Esti. (J05/A01)










