JurnalPantura.id, Kudus – Suasana semarak mewarnai Lapangan Desa Karangampel, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, sepanjang akhir Agustus 2025. Ribuan warga tumpah ruah menikmati rangkaian acara Karangampel Expo 2025 Gebyar Desa Wisata, yang digelar selama tiga hari, 28–30 Agustus 2025.
Acara yang diinisiasi Pokdarwis Karangampel bersama pemerintah desa itu menjadi ajang pamer potensi desa, mulai dari produk UMKM, seni, budaya, hingga wisata lokal. Antusiasme warga begitu tinggi, dari pembukaan hingga penutupan, pengunjung tak henti berdatangan.
Ketua penyelenggara, Muhamad Ansori, menyebut expo ini sebagai ruang untuk meneguhkan identitas Karangampel sebagai desa wisata.
“Karangampel sudah ditetapkan sebagai desa wisata sejak 2019. Melalui expo ini, kami ingin lebih memperkenalkan keunggulan desa, terutama kerajinan bambu, wisata religi, dan wisata edukasi,” ujarnya, Sabtu (31/8/2025) malam.

Hari pertama expo dibuka dengan senam massal, kegiatan KB Seruni, hingga pentas seni pencak silat. Malamnya, warga disuguhi lantunan musik nostalgia. Keesokan harinya, giliran anak-anak sekolah dasar, Teater Kapal, serta grup musik OAM yang memanaskan panggung.
Puncaknya, pada 30 Agustus, ribuan orang mengikuti jalan sehat di pagi hari, dan malamnya ditutup dengan pertunjukan ketoprak Wayang Budoyo yang membludak penonton.
Sebanyak 36 stan ikut meramaikan expo, mulai dari organisasi desa, Karang Taruna, IPNU, Pokdarwis, hingga kelompok UMKM.
Produk yang ditampilkan pun beragam, dari makanan khas, busana, sampai kerajinan tangan. Bahkan pedagang kaki lima juga diberi ruang untuk ikut berjualan.
Ketua Pokdarwis Karangampel, Arif Rif’an, menegaskan bahwa kerajinan bambu adalah ikon utama desa ini.
“Kerajinan bambu di Karangampel sudah berkembang lebih dari 14 tahun. Produk yang dihasilkan unik, seperti lampu hias, otok-otok, asbak, hingga layangan berkualitas lomba. Beberapa karya bahkan sering diikutkan dalam kompetisi nasional,” jelasnya.
Nama pengrajin lokal seperti Adul Latif dan Kiswanto dari Dukuh Kiyongan juga harum sebagai maestro layangan dengan berbagai model.
“Kami ingin generasi muda terus belajar agar warisan ini tidak hilang,” imbuhnya.
Selain kerajinan, Karangampel juga memiliki daya tarik religi. Di Dukuh Kiyongan terdapat makam tokoh desa seperti Mbah Malang Joyo dan Mbah Keong yang menjadi tujuan ziarah. Setiap pertengahan bulan Sura, warga rutin menggelar doa bersama dan syukuran.
Tak kalah menarik, wisata edukasi juga tersedia di Dukuh Nganti. Pengunjung bisa melihat proses pemerahan susu sapi sekaligus belajar tentang peternakan. Beberapa sekolah di Kudus bahkan rutin mengadakan kunjungan belajar ke desa ini.
Expo ini bukan kali pertama Karangampel menggelar event besar. Pada 2023, desa ini sukses mengadakan Lomba Layang-Layang Nasional dengan peserta dari berbagai daerah.
Ke depan, pihaknya memastikan akan adanya kegiatan rutin agenda tahunan yang diselenggarakan di Desa Karangampel.
“Kami berencana menambah kirab budaya dan festival seni agar lebih banyak potensi desa terekspos. Harapannya, Karangampel semakin dikenal sebagai desa wisata yang mampu menggerakkan ekonomi sekaligus melestarikan budaya,” tandasnya. (J07/A01)










