Jurnalpantura.id, Kudus – Berkunjung ke Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, belum lengkap rasanya tanpa mencicipi lentog tanjung, kuliner khas yang telah lama menjadi menu favorit masyarakat untuk sarapan.
Hidangan tradisional ini mudah dijumpai di berbagai sudut kota dan dikenal memiliki cita rasa khas yang mampu menggugah selera.
Lentog tanjung merupakan perpaduan lontong berukuran besar atau yang oleh masyarakat setempat disebut lentog, disajikan bersama sayur gori, kuah lodeh gurih, taburan bawang goreng, serta sambal khas yang dapat disesuaikan dengan selera pembeli.
Penyajiannya di atas daun pisang semakin menambah aroma dan kenikmatan kuliner tradisional tersebut.
Keunikan rasa dan penyajian lentog tanjung membuat makanan ini tetap bertahan sebagai salah satu ikon kuliner Kabupaten Kudus.
Tidak hanya digemari warga lokal, banyak wisatawan dari luar daerah yang sengaja datang untuk menikmati sajian yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Kerinduan terhadap cita rasa lentog tanjung juga dirasakan Istri Bupati Kudus, Endhah Sam’ani Intakoris. Usai menjalankan kegiatan sebagai Ketua Tim Penggerak PKK dalam penanganan stunting, ia menyempatkan diri singgah di Warung Pak Ndek yang berada di Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, Kudus.
Warung Pak Ndek dikenal sebagai salah satu lentog tanjung legendaris yang telah berdiri sejak 1952. Tempat makan tersebut hingga kini masih mempertahankan resep asli sehingga menjadi tujuan masyarakat maupun wisatawan yang ingin menikmati cita rasa autentik kuliner khas Kota Kretek.
“Saya sudah cukup lama tidak makan lentog tanjung, ini tidak ada di daerah lain, enak sekali rasanya,” ujar Endhah.
Menurut Endhah, perpaduan sayur gori, kuah lodeh, bawang goreng, dan lentog yang lembut menciptakan rasa yang sulit ditemukan di daerah lain.
Ia juga mengapresiasi hadirnya produk lentog tanjung dalam kemasan kaleng yang memudahkan warga Kudus di perantauan untuk melepas rindu terhadap kuliner kampung halaman.
“Yang kemasan kaleng itu sebagai obat untuk orang Kudus yang punya tempat tinggal di luar Kudus. Tapi, kalau ke Kudus harus makan langsung yang fresh dari penjualnya seperti ini,” tambahnya.
Sementara itu, pemilik Warung Pak Ndek generasi ketiga, Asfiatun, mengatakan dirinya berkomitmen mempertahankan resep keluarga yang diwariskan sejak generasi pertama.
Sejak mengelola warung pada 2003, ia memastikan cita rasa lentog tanjung tetap sama seperti yang dikenal masyarakat selama puluhan tahun.
“Yang khas dari lentog tanjung itu, untuk lontongnya ini berukuran besar, itu yang dinamakan lentog. Terus, ada sayur gori, kuah lodeh, dan bawang goreng, rasanya khas dan beda dari lainnya,” kata Asfiatun.
Ia menambahkan, warungnya juga menyediakan sate telur puyuh, sate jeroan, gorengan, dan kerupuk sebagai pelengkap.
Menurutnya, kunjungan pelanggan biasanya meningkat setiap Jumat hingga Minggu, dan ia berharap setiap wisatawan yang datang ke Kudus dapat mencicipi lentog tanjung sebagai salah satu warisan kuliner daerah. (J05/A01)










