Jurnalpantura.id, Kudus – Kuliner tradisional khas Kabupaten Kudus terus mengalami pengembangan agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Salah satu inovasi terbaru datang dari SMK Negeri 3 Kudus yang berhasil mengemas lentog Tanjung dalam bentuk kaleng dengan daya simpan mencapai satu tahun.
Terobosan tersebut dikembangkan melalui unit food processing Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian (APHP) SMKN 3 Kudus. Makanan yang selama ini identik disajikan hangat di warung-warung makan itu kini hadir dalam kemasan praktis sehingga lebih mudah dibawa maupun didistribusikan ke berbagai daerah.
Pengarah menu masakan APHP SMKN 3 Kudus, Erma, menjelaskan bahwa pengembangan produk lentog kalengan berangkat dari keinginan memperkenalkan kekayaan kuliner Kota Kretek kepada masyarakat yang lebih luas.
Menurutnya, lentog merupakan salah satu makanan khas Kudus yang memiliki cita rasa unik dan layak dikenal tidak hanya oleh warga lokal, tetapi juga masyarakat di berbagai daerah bahkan mancanegara.
“Ini makanan khas Kudus. Kita ingin membawa makanan khas kota santri ini bukan hanya dinikmati masyarakat Kudus saja, tapi juga orang-orang di luar sana yang cinta makanan Kudus, bahkan bisa diekspor ke luar negeri,” ujarnya.
Dalam satu kemasan kaleng, konsumen dapat menikmati lentog lengkap yang terdiri atas lontong tewel, opor tahu, dan lodeh nangka muda, menu yang selama ini menjadi ciri khas Lentog Tanjung di Kecamatan Jati.
Erma menuturkan, produk tersebut diproses menggunakan teknologi vakum dan sterilisasi sehingga kualitas makanan tetap terjaga dalam waktu lama. Dengan metode tersebut, lentog kalengan mampu bertahan hingga sekitar satu tahun tanpa mengurangi cita rasanya.
“Ketahanannya sekitar satu tahun,” katanya.
Selain menawarkan kepraktisan, harga yang dibanderol juga relatif terjangkau. Satu kaleng lentog dipasarkan dengan harga sekitar Rp25 ribu dan saat ini sudah mulai dipromosikan serta dijual secara daring melalui SMKN 3 Kudus.
Tak hanya lentog, unit food processing sekolah tersebut juga mengembangkan sejumlah produk kuliner khas lainnya dalam kemasan kaleng. Beberapa di antaranya ikan gabus kuah santan, semur kuthuk, hingga telo gondhang yang dipasarkan mulai dari Rp15 ribuan.
Ketua Dekranasda Kabupaten Kudus, Endhah Sam’ani Intakoris, menyampaikan apresiasi atas kreativitas yang ditunjukkan SMKN 3 Kudus dalam mengemas makanan tradisional menjadi produk modern yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Menurutnya, kemasan kaleng membuka peluang bagi kuliner khas Kudus untuk menjangkau konsumen yang lebih luas tanpa harus datang langsung ke daerah asalnya.
“Kalau dikemas seperti ini, kuliner khas Kudus bisa dikenalkan lebih luas secara nasional. Orang yang di Jakarta, Kalimantan, Sulawesi, bisa menikmati tanpa harus datang langsung ke Kudus,” tuturnya.
Ia menambahkan, bentuk kemasan yang praktis juga memudahkan proses pengiriman maupun dibawa saat bepergian ke luar daerah.
“Kalau sudah kalengan seperti ini bisa masuk pesawat dan dikirim ke mana saja,” katanya.
Dukungan serupa disampaikan Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris. Ia menilai inovasi pengemasan makanan tradisional menjadi produk tahan lama merupakan langkah strategis untuk meningkatkan daya saing kuliner lokal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Inovasi olahan santan atau tewel yang biasanya hanya tahan dalam waktu singkat, ini bisa bertahan lama. Ini tidak hanya menjaga kuliner tradisional tetap hidup, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat dan pelaku UMKM di Kota Kretek,” pungkasnya. (J02/A01)










