Jurnalpantura.id, Kudus – Jajanan tradisional gapit buatan warga binaan di Rutan Kelas IIB Kudus, ramai diserbu pembeli selama momentum Ramadan.
Tingginya permintaan membuat produksi gapit bahkan telah habis terjual sebelum Hari Raya Lebaran tiba.
Kepala Subseksi Pelayanan Tahanan Rutan Kelas IIB Kudus, Rifky Nabris, menyampaikan bahwa kegiatan produksi gapit ini merupakan program rutin tahunan yang dilaksanakan setiap bulan Ramadan.
Program ini melibatkan warga tahanan pendamping atau tamping yang telah memenuhi syarat tertentu.
Menurut Rifky, warga binaan yang dapat mengikuti program tamping adalah mereka yang telah menjalani sepertiga masa penahanan, sudah menjalani sidang, serta berkelakuan baik.
Mereka kemudian dilibatkan dalam kegiatan pembinaan sekaligus membantu operasional sehari-hari di dalam rutan.
“Jadi untuk yang ikut tamping itu yang sudah menjalani sepertiga penahanan, sudah sidang, dan berkelakuan baik. Kita latih beberapa keterampilan salah satunya membuat jajanan gapit ini,” ujarnya, Rabu, 18/3/2026.
Dalam sehari, sekitar delapan orang tamping mampu memproduksi kurang lebih lima kilogram gapit. Seluruh proses dikerjakan secara mandiri oleh warga binaan, mulai dari pembuatan adonan, pencetakan, hingga pengemasan produk siap jual.
Untuk pemasaran, sebagian produk gapit dititipkan di stand pameran Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Pati, sementara sisanya dipasarkan kepada pegawai internal Rutan Kudus.
“Pengunjung yang datang ke rutan juga tertarik dan langsung memesan setelah melihat proses pembuatannya,” tuturnya.
Selain gapit, warga binaan juga dibekali keterampilan membuat produk lain seperti kerupuk puli dan telur asin. Produk-produk tersebut juga mendapat respons positif dari masyarakat, terutama dari kalangan pegawai internal rutan.
Hasil penjualan digunakan untuk mendukung operasional rutan, namun yang lebih utama adalah memberikan bekal keterampilan agar warga binaan lebih siap dan mandiri saat kembali ke masyarakat. (J05/A01)










