Kunjungi Kudus, Wamenkes Dorong Penguatan Layanan Kesehatan dan Deteksi Dini TBC

- Jurnalis

Selasa, 13 Oktober 2026 - 19:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benjamin Paulus Octavianus, meninjau fasilitas pelayanan dan penanganan TBC di RSUD Kudus. Foto: JP

Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benjamin Paulus Octavianus, meninjau fasilitas pelayanan dan penanganan TBC di RSUD Kudus. Foto: JP

Jurnalpantura.id, Kudus –  Penguatan fasilitas pelayanan kesehatan dan deteksi dini tuberkulosis (TBC) menjadi perhatian Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI, dr. Benjamin Paulus Octavianus, saat melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Kudus, Selasa (13/10/2026). Dalam kunjungan tersebut, ia meninjau pelayanan di rumah sakit sekaligus melihat kesiapan fasilitas penanganan TBC sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

Benjamin mengatakan, kunjungan ke Kudus merupakan bagian dari pemantauan pelayanan kesehatan di daerah. Sebelum tiba di Kudus, ia terlebih dahulu melakukan kunjungan ke Kabupaten Jepara untuk melihat secara langsung kondisi fasilitas kesehatan.

Menurutnya, peningkatan kualitas pelayanan perlu diimbangi dengan ketersediaan tenaga medis, terutama dokter spesialis yang masih dibutuhkan di berbagai bidang di Indonesia. Salah satu upaya yang didorong adalah pengembangan rumah sakit sebagai tempat pendidikan dokter spesialis.

Ia mengapresiasi kesiapan RSUD Kudus yang direncanakan menjadi pusat pendidikan dokter spesialis jantung. Selain melihat kelengkapan fasilitas, pihaknya juga mencermati jumlah pasien yang telah mendapatkan pelayanan di rumah sakit tersebut.

”Saya senang rumah sakit di Kudus ini akan menjadi pusat pendidikan dokter spesialis jantung. Kami melihat kelengkapannya dan jumlah pasien yang ditangani sudah mencapai ribuan. Menurut saya, kualitas pelayanannya sudah sangat bagus,” ujar Benjamin saat diwawancarai, Selasa (13/10/2026).

Selain pengembangan layanan spesialis, penanganan TBC menjadi salah satu perhatian dalam kunjungan tersebut. Benjamin menyampaikan bahwa pemerintah memprioritaskan penanggulangan penyakit itu karena Indonesia masih menghadapi beban kasus TBC yang tinggi.

Ia menjelaskan, pengendalian TBC membutuhkan upaya terpadu, mulai dari pemeriksaan, penemuan kasus, hingga penanganan pasien. Oleh karena itu, kesiapan fasilitas diagnostik di rumah sakit maupun puskesmas dinilai penting untuk mendukung percepatan penanggulangan penyakit tersebut.

Dalam peninjauan di RSUD Kudus, Benjamin melihat fasilitas yang digunakan untuk pelayanan pasien TBC. Ia menilai kesiapan sarana di rumah sakit tersebut menjadi salah satu unsur pendukung pelaksanaan program pemerintah dalam menekan penyebaran penyakit menular.

”Presiden ingin Indonesia segera bebas TBC. Karena itu, penanganan penyakit ini menjadi salah satu program prioritas. Tadi saya melihat ruang penanganan TBC di rumah sakit ini dan fasilitasnya sudah sangat bagus,” ungkapnya.

Untuk memperluas jangkauan pemeriksaan, Kementerian Kesehatan juga menyiapkan distribusi alat diagnostik TBC ke puskesmas di berbagai wilayah Indonesia. Pemerintah telah memesan sebanyak 5.600 unit alat diagnostik yang akan disalurkan secara bertahap, disertai dukungan perangkat rontgen bergerak atau mobile X-ray.

Benjamin menyebut, pendistribusian alat tersebut direncanakan dimulai pada Oktober 2026 untuk wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selanjutnya, distribusi akan diperluas ke wilayah lain, mulai dari Aceh hingga Papua, pada bulan berikutnya.

Baca Juga :  Door to Door, MDMC Periksa Kesehatan Warga yang Bertahan di Tengah Banjir

”Setiap puskesmas akan mendapatkan dukungan alat diagnostik, termasuk mobile X-ray. Kami juga menyiapkan tenaga radiografer untuk menunjang pelaksanaan pemeriksaan di fasilitas kesehatan tingkat pertama,” jelasnya.

Ia menambahkan, ketersediaan tenaga radiografer di Jawa Tengah dinilai cukup mendukung program tersebut. Pemerintah pusat juga merencanakan pengangkatan tenaga radiografer sebagai pegawai puskesmas guna memperkuat pelayanan pemeriksaan dan deteksi dini TBC.

Di samping penanganan penyakit menular, Benjamin turut menyoroti pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Ia menyebut Jawa Tengah mencatatkan capaian pemeriksaan yang tinggi secara nasional, dengan sekitar 18 juta penduduk telah mengikuti program tersebut hingga Oktober 2026.

Menurutnya, capaian itu didukung oleh upaya mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, termasuk melalui program spelling yang dijalankan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Pendekatan tersebut diharapkan mempermudah masyarakat mengakses pemeriksaan kesehatan.

Benjamin menegaskan, pelayanan kesehatan seharusnya tidak hanya berorientasi pada pengobatan ketika seseorang jatuh sakit. Pemeriksaan berkala diperlukan untuk mengetahui kondisi tubuh lebih awal, sehingga potensi penyakit dapat segera ditangani dan risiko komplikasi bisa ditekan.

Ia mengimbau masyarakat agar memanfaatkan program CKG dan tidak menunda pemeriksaan hingga muncul keluhan kesehatan. Bagi warga yang memiliki tekanan darah tinggi atau kadar gula darah tinggi, pemeriksaan rutin juga penting untuk memantau kondisi dan mencegah komplikasi.

”Masyarakat tidak perlu menunggu sakit untuk memeriksakan diri. Minimal setahun sekali harus melakukan pemeriksaan kesehatan. Kalau memiliki hipertensi atau gula darah tinggi, pemeriksaan harus lebih rutin agar komplikasi bisa dicegah,” tuturnya.

Lebih lanjut, Benjamin menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan peningkatan angka harapan hidup masyarakat Indonesia dari sekitar 74 tahun menjadi 76 tahun pada 2029. Target tersebut diharapkan berjalan seiring dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat, sehingga penduduk dapat menjalani usia yang lebih panjang dalam kondisi sehat.

Ia juga menyebutkan, jumlah peserta CKG secara nasional telah melampaui 105 juta orang. Melalui program tersebut, pemerintah berharap semakin banyak masyarakat mengetahui kondisi kesehatannya sejak dini dan memperoleh penanganan yang sesuai.

”Saya meminta bantuan media untuk menyebarluaskan informasi ini agar masyarakat datang melakukan cek kesehatan. Tujuannya bukan menunggu sakit untuk berobat, melainkan mencegah agar tidak sakit,” pungkasnya. (J02/A01)

Berita Terkait

Tunggu Kepastian DBHCHT 2027, Pemkab Kudus Pertimbangkan Bangun RSUD Sunan Muria
Kunjungi RSUD Loekmono Hadi, Wamenkes Dukung Pengembangan Pusat Pendidikan Dokter Spesialis Jantung
Wamenkes Tinjau Kudus, 19 Puskesmas Bakal Dilengkapi Alat Diagnostik TBC dan X-ray Mobile
Tinjau CKG di Kudus, Wamenkes Ungkap 18 Juta Warga Jateng Telah Diperiksa
Proyek Rp5,7 Miliar di Kudus Timur Segera Tuntas, Puskesmas Jekulo Masuk Tahap Akhir
Polres Kudus Usulkan 548 Jiwa Jadi Peserta BPJS Kesehatan Lewat Program Agen Perlinsos
IGD RSUD Kudus Makin Padat, Kasus Infeksi Meningkat sejak Awal September
Kasus ISPA Meningkat di Tengah Cuaca Ekstrem, DKK Kudus Ingatkan Pentingnya Cukupi Cairan
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 16:07 WIB

Tunggu Kepastian DBHCHT 2027, Pemkab Kudus Pertimbangkan Bangun RSUD Sunan Muria

Rabu, 14 Oktober 2026 - 15:45 WIB

Kunjungi RSUD Loekmono Hadi, Wamenkes Dukung Pengembangan Pusat Pendidikan Dokter Spesialis Jantung

Rabu, 14 Oktober 2026 - 15:23 WIB

Wamenkes Tinjau Kudus, 19 Puskesmas Bakal Dilengkapi Alat Diagnostik TBC dan X-ray Mobile

Selasa, 13 Oktober 2026 - 19:34 WIB

Tinjau CKG di Kudus, Wamenkes Ungkap 18 Juta Warga Jateng Telah Diperiksa

Selasa, 13 Oktober 2026 - 19:21 WIB

Kunjungi Kudus, Wamenkes Dorong Penguatan Layanan Kesehatan dan Deteksi Dini TBC

Berita Terbaru

Petugas kepolisian menggandeng terduga para pelaku kasus bentrokan antara kelompok penagih utang dan warga di Desa Jepang, Kudus. Polisi masih mendalami peran masing-masing pihak dalam perkara tersebut. Foto: JP

Kriminalitas

Utang Rp 52 Juta Berujung Bentrokan, 24 Orang Diamankan di Kudus

Rabu, 14 Okt 2026 - 17:05 WIB