Jurnalpantura.id, Kudus – Sebanyak 19 puskesmas di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, direncanakan mendapatkan bantuan alat diagnostik Near Point of Care Tuberculosis (NPOC TBC) dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia.
Bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat layanan kesehatan tingkat pertama sekaligus mempercepat deteksi dan penanganan penyakit tuberkulosis (TBC).
Rencana pemberian bantuan itu disampaikan Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Republik Indonesia, Benyamin Paulus Oktavianus, saat melakukan kunjungan kerja di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Loekmono Hadi Kudus, Selasa, 13/10/2026.
Menurutnya, penyediaan alat diagnostik di puskesmas merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kemampuan fasilitas kesehatan dalam mendeteksi penyakit TBC secara lebih cepat.
Benyamin menjelaskan, distribusi alat diagnostik tersebut akan dilaksanakan secara bertahap. Pada tahap awal, pemerintah menargetkan seluruh puskesmas di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat mendapatkan alat NPOC mulai Oktober 2026.
“Jadi begini, program pemberantasan TBC kan butuh alat diagnostik. Nah, pemerintah akan memberikan alat diagnostik namanya NPOC di setiap puskesmas mulai bulan ini seluruh Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat lengkap semua,” ujar Benyamin.
Untuk mendukung program tersebut, pemerintah telah memesan sebanyak 5.600 unit alat diagnostik NPOC. Setelah distribusi di Pulau Jawa, pengadaan dan penyaluran alat direncanakan berlanjut ke berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua.
“Bulan depan kita bisa Aceh sampai Papua karena kita pesan 5.600 NPOC,” katanya.
Di Kabupaten Kudus, sebanyak 19 puskesmas direncanakan masing-masing memperoleh satu unit alat diagnostik NPOC TBC. Jumlah tersebut menyesuaikan dengan banyaknya puskesmas yang beroperasi di wilayah setempat.
Dengan tersedianya perangkat tersebut, fasilitas kesehatan tingkat pertama diharapkan semakin optimal dalam melakukan pemeriksaan awal terhadap masyarakat yang diduga mengalami TBC.
Selain pengadaan alat diagnostik, Kemenkes juga merencanakan pemberian satu unit alat rontgen bergerak atau X-ray mobile untuk setiap puskesmas. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan dapat mendukung pemeriksaan pasien, khususnya dalam mendeteksi kelainan pada paru-paru yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Dengan demikian, upaya identifikasi kasus TBC dapat diperkuat melalui dukungan teknologi pemeriksaan yang lebih memadai.
Untuk mengoperasikan perangkat X-ray mobile, pemerintah juga merencanakan penyediaan tenaga radiografer di setiap puskesmas penerima bantuan. Benyamin menyebut ketersediaan tenaga radiografer di Jawa Tengah tidak menjadi kendala berarti.
“Termasuk alat X-ray mobile, setiap puskesmas akan mendapatkan satu dan akan mendapatkan radiografer. Ternyata radiografer di Jawa Tengah enggak kesulitan. Yang tinggal mereka nanti diangkat sebagai pegawai puskesmas dari pemerintah pusat,” jelasnya.
Penguatan sarana diagnostik dan penyediaan tenaga kesehatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas puskesmas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Selain membantu mendeteksi penyakit lebih dini, dukungan fasilitas yang memadai juga berpotensi mempercepat proses pemeriksaan lanjutan sehingga pasien yang membutuhkan penanganan dapat segera dirujuk atau mendapatkan layanan sesuai kondisi kesehatannya.
Benyamin menambahkan, pengadaan alat diagnostik dan X-ray mobile tidak hanya diarahkan untuk mendukung program pemberantasan TBC. Fasilitas tersebut juga diharapkan memperkuat upaya pencegahan penyakit melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Melalui peningkatan sarana pelayanan di puskesmas, masyarakat diharapkan semakin mudah mengakses pemeriksaan kesehatan tanpa harus menunggu munculnya keluhan atau gejala penyakit.
Dengan rencana penambahan alat diagnostik TBC dan X-ray mobile di 19 puskesmas, Kabupaten Kudus diharapkan semakin siap mendukung upaya pemerintah dalam menekan penyebaran tuberkulosis.
Dukungan peralatan, tenaga kesehatan, dan akses pemeriksaan yang lebih luas menjadi bagian penting dalam memperkuat deteksi dini serta meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
Implementasi bantuan tersebut nantinya diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, sekaligus mendukung percepatan penanganan TBC dan penguatan layanan kesehatan preventif di Kabupaten Kudus. (J05/A01)










