Jurnalpantura.id, Kudus – Imajinasi masa kecil kembali dihidupkan melalui selembar kertas di Taman Lalu Lintas Hutan Kota, Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus.
Belasan anak muda mengikuti lokakarya boneka kertas dengan meremas, membentuk, hingga memainkan boneka hasil kreasi mereka, Minggu sore, 6/9/2026
Kegiatan yang digelar Lumbungbaca KBPW tersebut tidak sekadar mengajarkan peserta membuat kerajinan tangan.
Mereka juga diajak menjadikan boneka sebagai media untuk mengekspresikan perasaan, pengalaman, dan cerita yang ada dalam pikiran masing-masing.
Suasana santai terlihat ketika peserta duduk melingkar di ruang terbuka. Bermodalkan bahan sederhana, mereka membentuk kertas menjadi karakter sesuai imajinasi, kemudian mencoba membuat boneka tersebut seolah-olah memiliki kehidupan.
Koordinator Lumbungbaca KBPW, Saeful Annas, mengatakan kegiatan itu dirancang sebagai aktivitas sederhana untuk membantu peserta beristirahat sejenak dari kesibukan sehari-hari.
Proses meremas dan membentuk kertas dinilai dapat menjadi kegiatan yang menyenangkan sekaligus membantu mengurangi kejenuhan.
“Mula-mula peserta membuat satu boneka, lalu memperagakan cara boneka itu bergerak, bernafas hingga bersuara,” ujarnya.
Menurut Annas, lokakarya tersebut menjadi kegiatan perdana dengan konsep boneka kertas yang digelar di Kudus. Ia mendapatkan inspirasi dari komunitas seniman di Yogyakarta yang menggunakan boneka kertas dalam pertunjukan tanpa suara.
Ia kemudian mengembangkan gagasan tersebut dalam bentuk lokakarya agar peserta tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga berani menggunakan imajinasi.
Boneka yang dibuat dapat menjadi karakter untuk bercerita tentang masa kecil, kampung halaman, maupun pengalaman pribadi.
“Saya membayangkan bagaimana menghidupkan boneka seolah-olah mahluk hidup, itu yang dipraktikkan peserta, berimajinasi seperti masa kecil,” katanya.
Menariknya, peserta tidak diwajibkan menggunakan kertas baru. Berbagai material sederhana seperti daun, koran bekas, kain, hingga limbah yang sudah tidak terpakai dapat digunakan untuk memperkaya bentuk boneka sekaligus mengasah kreativitas.
“Ternyata karya teman-teman bagus, dan mereka bisa berimajinasi dengan kampung halaman, masa kecilnya, atau membuat bentuk-bentuk unik yang bisa diceritakan,” bebernya.
Annas berharap kegiatan kreatif semacam itu dapat membuat ruang publik di Kudus lebih hidup. Menurutnya, Taman Lalu Lintas Hutan Kota Rendeng dapat dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas positif, seperti diskusi buku, pementasan, pameran, kolase, hingga pembuatan zine.
“Sayang sudah ada ruang publik bagus tetapi jarang digunakan. Kegiatan ini juga bisa merefresh otak dan menjadi hal baru yang menyenangkan di akhir pekan,” tandasnya. (J05/A01)










