Jurnalpantura.id, Kudus – Kabupaten Kudus menjadi wilayah satu-satunya di Eks Karesidenan Pati, yang mengaktifkan komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI). Komunitas ini menjadi wujud kebanggaan perempuan dengan kebaya.
Resmi dibentuk dan dilantik pada Februari 2026 lalu, komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia diketuai oleh Bupati Kudus, Endhah Endhayani. Berbagai kegiatan telah dilakukan dan tidak pernah luput dengan kebaya sebagai busana kebanggaan.
Pada momentum Hari Kartini ini, Endhah pun sekali lagi menegaskan bahwa perempuan Jawa, termasuk yang tinggal di Kabupaten Kudus, seharusnya melestarikan busana kebaya dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya itu iri melihat Jepang dengan Kimono, Korea Selatan dengan hanbok, kita ini di Jawa punya kebaya, seharusnya bisa dilestarikan dan dipakai terus dalam setiap momentum,” ujar Endhah saat peringatan Hari Kartini, Selasa, 21/4/2026.
Ia berharap generasi muda bisa membiasakan diri memakai busana dalam setiap momentum dan tidak hanya saat Peringatan Hari Kartini saja. Kebaya ini juga menjadi simbol bagaimana dulu RA Kartini memperjuangkan emansipasi wanita.
“Kami (Perempuan Berkebaya Indonesia) selalu memakai kebaya setiap rapat, setiap ada kegiatan, ini sebagai contoh bagi masyarakat Kudus untuk ikut melestarikan budaya, utamanya bagi kaum muda,” tuturnya.
Selain berkebaya, Endhah menyelipkan pesan penuh makna dalam Peringatan Hari Kartini kali ini, bahwa perempuan harus berdaya dan berkarya. Jangan sia-siakan perjuangan RA Kartini dalam menyuarakan emansipasi wanita.
Meskipun kodrat perempuan adalah sebagai istri dan ibu yang melayani keluarga, tidak ada salahnya memiliki karir impian. Namun, jika memilih untuk mengabdi dengan keluarga menjadi ibu rumah tangga, tetap harus memiliki keterampilan lain.
“Jangan hanya fokus dalam satu tugas, harus punya keterampilan. Kalau suka masak ya bisa coba dijual, kalau suka aksesoris atau lainnya harus dikembangkan. Saya juga tetap melayani keluarga di rumah, tetapi tetap berdaya dan berkarya,” tandasnya.
Di era modern saat ini, sudah tidak ada lagi sekat antara perempuan dan laki-laki. Ruang bagi perempuan untuk tampil berdaya dan berkarya sudah hampir sejajar dengan laki-laki, baik dalam segi karir, bersuara maupun lainnya.
“Bagaimana kalau RA Kartini tidak memperjuangkan emansipasi wanita, pasti kita masih terkurung di rumah sampai hari ini,” ucapnya.
Endhah menambahkan, ada sekitar 40 orang yang bergabung dalam komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia Kabupaten Kudus. Para puan tersebut berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pengusaha, pejabat, pensiunan hingga ibu rumah tangga. ***










