oleh

Nekat Produksi Kue Untuk Bantu Sesama di Masa Pandemi

Jurnalpantura.id, Kudus – Pandemi corona virus disease yang melanda Indonesia, membuat sebagian Usaha Mikro Kecil Menengah pembuat kue lebaran memilih tutup produksi. Pasar yang lesu dan tingginya harga gula membuat mereka berpikir puluhan kali untuk menjalankan usaha ini.

Namun tidak dengan Arif Nur Habibi. Pria, 38 tahun asal Kelurahan Purwosari itu mengaku nekat saja menjalankan usaha kue kering di tengah pandemi. Potensi tidak laku dan merugi ditepiskannya, guna memuluskan niatnya membatu sesama pada masa wabah corona.

Kepada media ini, Arif mengaku sempat ragu melanjutkan usaha kue kering yang telah dirintisnya selama lebih dari satu dekade itu. Tetapi tekatnya menguat, usai mendengar keluhan kesah tetangganya yang menganggur akibat libur corona.

“Tetangga saya banyak yang bekerja berjualan di kantin sekolah. Adanya libur corona mereka akhirnya meganggur. Karena tidak ada tawaran pekerjaan serabutan yang bisa mereka kerjakan. Dengan saya tetap produksi, secara tidak langsung saya membatu perekonomian tetangga-tetangga saya,” katanya kepada Jurnalpantura.id, Kamis, 14/05/2020.

Pekerja kue lebaran sedang mengemas kue untuk kemudian di kirimkan pada pemesan (Foto:J12)

Mulai produksi pada awal Rmadhan lalu, Ayah satu anak itu mengaku mengalami kesulitan dalam memasarkan produknya. Toko-toko dan pasar yang selama ini menjadi sarana pemasaran kue lebarannya, kini menolak produknya. Alasannya, permintaan kue lebaran saat ini tengah sepi dan mereka tidak mau merugi.

Dia pun dipaksa memutar otak, agar kue-kue yang dibuatnya tetap laku terjual dan tidak terlalu merugi. Akhirnya, dia mencoba memasarkanya ke sejumlah grup-grup di sosial media dan marketplace.

Tidak seperti biasanya, kue nastar mungil yang dikemas dalam toples seberat 250 gram itu mulai dijual secara ecer dan grosir. Harga yang ditawarkan Arif juga cukup terjangkau yakni kisaran harga mulai Rp. 12 ribu pertoples.

“Penjualan offline tahun ini tutup semua. Jadi kami hanya mengandalkan penjualan secara online saja,” kata dia.

Meski diakuinya, omset penjualan kue lebarannya tahun ini mengalami penurunan yang signifikan mencapai 50 persen. Akan tetapi, pria bertubuh tambun itu mengaku lega dan bersyukur karena usaha kue lebaran miliknya masih bisa membantu kehidupan belasan karyawannya.

“Meskipun upah yang saya berikan tidak seberapa. Tetapi cukuplah untuk tambah-tambahan mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ucapnya dengan nada sendu.

Jelang lebaran, Arif tidak menyangka mendapat rezeki tidak terduga dari sejumlah pelanggannya. Bisnis yang semula diduga kian melesu mendekati lebaran, jutrsu berbalik. Orderan kue lebaran dari sejumlah politikus dan pengusaha kini mengisi hari-harinya.

“Selasa, 12 Mei 2020 udah ancang-ancang tutup produksi karena permintaan sangat sepi. Alhamdulillah, malamnya dapat orderan yang cukup banyak. Jadi sampai hari ini masih bisa produksi,” bebernya.

Menurut Arif, di masa pendemi tolong menolong dengan sesama menjadi hal yang harus dilakukan untuk menjaga kelangsungan hidup. Salah satu langkah kecil yang bisa dilakukan adalah membeli dan melarisi produk-produk yang dijual oleh rekan atau tetangga. Hal ini diyakininya dapat membantu perputaran uang di masyarakat, khususnya kalangan menengah ke bawah. (J12/A01)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed