Krisis Kedelai Impor: Pengusaha Tahu Tempe di Kudus Hadapi Tantangan Berat

- Jurnalis

Selasa, 8 April 2025 - 19:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kacang kedelai yang merupakan bahan baku pembuatan tempe dan tahu. (Foto: JP)

Kacang kedelai yang merupakan bahan baku pembuatan tempe dan tahu. (Foto: JP)

Jurnalpantura.id, Kudus – Harga kedelai impor di Kabupaten Kudus mengalami lonjakan yang cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir.

Kenaikan harga tersebut dipicu oleh dampak perang dagang global yang melibatkan Amerika Serikat serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Lonjakan harga kedelai ini mulai dirasakan oleh para pengusaha tahu dan tempe yang bergantung pada bahan baku tersebut.

Manajer Primer Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Primkopti) Kabupaten Kudus, Amar Maruf, mengungkapkan bahwa harga kedelai impor telah mencapai angka Rp9.600 per kilogram.

Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga normal yang sebelumnya hanya berada di kisaran Rp9.000 per kilogram.

Kenaikan harga ini sudah berlangsung sejak sebelum perayaan Lebaran, yang memperburuk kondisi para pelaku industri tahu dan tempe.

Amar Maruf menyebutkan bahwa tren kenaikan harga kedelai impor kemungkinan besar akan terus berlanjut, mengingat situasi perekonomian global yang masih tidak stabil.

Baca Juga :  Hingga Maret 2024, OJK: Sektor Jasa Keuangan di Jawa Tengah Stabil dan Terjaga

Saat ini, stok kedelai impor yang ada di gudang Primkopti Kudus sudah habis, dan mereka harus menunggu kedatangan pasokan baru.

“Kami masih menunggu pengiriman kedelai baru yang kemungkinan datang hari ini. Namun, harga yang baru belum bisa dipastikan,” ujarnya, Selasa, 8/4/2025.

Kondisi ini membuat para pengusaha tahu dan tempe di Kudus semakin khawatir, karena mereka belum mengetahui bagaimana dampak lonjakan harga kedelai ini setelah masa libur Lebaran berakhir.

“Kita belum tahu seperti apa dampaknya setelah hari ini. Apalagi jika mereka harus membeli kedelai dengan harga baru yang jauh lebih mahal,” tegas Maruf.

Biasanya, sejumlah pengusaha mencoba untuk mengurangi dampak lonjakan harga kedelai dengan cara mengecilkan ukuran produk tanpa menaikkan harga jual.

Namun, jika harga kedelai terus meroket tanpa adanya perubahan, banyak pengusaha tahu tempe yang khawatir akan terpaksa menghentikan operasional mereka. (J05/A01)

Berita Terkait

BPS: Inflasi Tahunan Kudus 3,16 Persen, Sedikit di Bawah Jateng
Nilai Ekspor Kudus Capai Rp400 Miliar, Pemkab Bidik Lebih Banyak Pelaku Usaha Go Global
Kudus Mulai Bidik Pasar Dunia, Pelaku Usaha Dibekali Pengetahuan Ekspor
Tunggakan Retribusi Pasar Jadi Beban PAD Kudus, Nilainya Capai Rp 7,6 Miliar
Rayakan Hari Jadi ke-477, Pemkab Kudus Gelar Great Sale Bareng Pelaku Usaha Sepanjang September 2026
Buka Gebyar Fest 81, Bupati Kudus Dorong UMKM Tumbuh Lewat Sinergi Perbankan
Pemkab Kudus Awasi 150 Pelaku Usaha pada 2026, Fokus Tingkatkan Kepatuhan Perizinan
CFN dan Nobar Piala Dunia Hidupkan Simpang Tujuh Kudus, UMKM Raup Berkah
Berita ini 126 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 15:09 WIB

BPS: Inflasi Tahunan Kudus 3,16 Persen, Sedikit di Bawah Jateng

Selasa, 29 September 2026 - 15:29 WIB

Nilai Ekspor Kudus Capai Rp400 Miliar, Pemkab Bidik Lebih Banyak Pelaku Usaha Go Global

Selasa, 29 September 2026 - 15:02 WIB

Kudus Mulai Bidik Pasar Dunia, Pelaku Usaha Dibekali Pengetahuan Ekspor

Senin, 28 September 2026 - 12:51 WIB

Tunggakan Retribusi Pasar Jadi Beban PAD Kudus, Nilainya Capai Rp 7,6 Miliar

Senin, 24 Agustus 2026 - 16:53 WIB

Rayakan Hari Jadi ke-477, Pemkab Kudus Gelar Great Sale Bareng Pelaku Usaha Sepanjang September 2026

Berita Terbaru