Jurnalpantura.id, Kudus – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan konsep prasmanan mulai diterapkan sebagai proyek percontohan (pilot project) di SD 1 Prambatan Lor, Kabupaten Kudus.
Setelah berjalan selama dua minggu, program tersebut mendapat respons positif dari para siswa yang menikmati makanan dalam kondisi hangat dan segar. Untuk sementara, penerapan konsep prasmanan ini menyasar siswa kelas V dan VI.
Wakil Bupati Kudus, Bellinda Birton, didampingi Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus, Anggun Nugroho, meninjau langsung pelaksanaan program tersebut pada Rabu, 21/10/2026.
Kunjungan itu dilakukan untuk melihat secara langsung penerapan sistem penyajian MBG sekaligus mengetahui respons siswa terhadap metode makan bersama tersebut.
Menurut Bellinda, sistem prasmanan menjadi salah satu alternatif pembagian MBG yang perlu dievaluasi, terutama untuk mengetahui efektivitas pelaksanaannya serta dampaknya terhadap kebiasaan makan siswa.
Melalui sistem ini, siswa dapat memilih sendiri lauk yang ingin dikonsumsi dari menu yang telah disediakan di meja prasmanan. Dengan begitu, diharapkan jumlah makanan yang tersisa dapat diminimalkan karena siswa bisa menyesuaikan pilihan lauk dengan selera masing-masing.
Uji coba ini juga menjadi bahan evaluasi sebelum sistem pembagian MBG secara prasmanan diterapkan lebih lanjut. Rencananya, pola tersebut akan dikhususkan bagi siswa kelas V dan VI yang dinilai sudah lebih mandiri dalam mengambil makanan sendiri.
Meski demikian, efektivitas sistem prasmanan tetap perlu dilihat dari berbagai aspek, mulai dari kelancaran antrean, kecukupan porsi dan gizi, kebersihan, hingga kemampuan siswa mengambil makanan sesuai kebutuhan.
“Harapannya, melalui sistem prasmanan ini, anak-anak bisa memilih lauk yang mereka sukai sehingga makanan yang terbuang bisa dikurangi. Namun, tentu perlu kita lihat bersama apakah pelaksanaannya efektif dan bisa diterapkan dengan baik di sekolah,” ujar Bellinda.
Sementara itu, Plt Kadisdikpora Anggun Nugroho mengatakan, konsep prasmanan tidak sekadar menjadi alternatif dalam penyajian makanan bergizi bagi siswa.
Lebih dari itu, sistem ini diharapkan dapat menciptakan pengalaman makan yang menyenangkan sekaligus membiasakan anak-anak untuk lebih mandiri dan bertanggung jawab terhadap makanan yang mereka konsumsi.
“Anak-anak merespons dengan sangat baik dan menyukai konsep prasmanan ini karena makanannya disajikan dalam kondisi hangat dan masih segar,” ujar Anggun saat menjelaskan hasil pemantauan pelaksanaan program di sekolah tersebut.
Menurutnya, salah satu keunggulan sistem prasmanan adalah siswa dapat mengambil makanan sesuai kebutuhan masing-masing.
Kebiasaan tersebut sekaligus menjadi sarana edukasi karakter, mulai dari kedisiplinan saat mengantre, mencuci tangan sebelum makan, hingga membangun kepedulian dengan berbagi bersama teman.
Siswa juga dibiasakan mengambil makanan secukupnya agar tidak banyak makanan yang tersisa.
“Kepala sekolah juga menyampaikan ada edukasi karakter yang juga jalan di situ, antre, cuci tangan, terus berbagi dengan temannya, seperti itu. Kemudian ambil yang dia mampu untuk menghabiskan, jadi sisa makannya tidak begitu banyak,” tuturnya.
Dari sisi teknis, makanan yang disediakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dikirim menggunakan wadah besar atau panci penyaji. Menu yang disajikan terdiri atas nasi, lauk-pauk, sayuran, dan buah.
Sebelum makan bersama, siswa mengambil makanan secara bergantian dengan alur yang telah diatur agar proses pembagian berjalan tertib.
Untuk membantu pelayanan, sekitar empat hingga lima siswa ditunjuk mengambilkan makanan bagi teman-temannya. Mereka bertugas membagikan nasi, ayam, tahu, sayur, hingga buah sesuai porsi yang dibutuhkan.
Meski melibatkan siswa, proses tersebut tetap dipantau petugas SPPG untuk memastikan pembagian makanan berjalan dengan baik.
“Jadi empat orang kayak ya, empat orang atau lima orang anak itu ngambilin nasi, ngambilin ayam, ngambilin tahu, ngambilin sayur, ngambilin buah. Nah, nanti ada satu petugas SPPG yang bantu mengamati, memantau saja,” jelas Anggun.
Meski mendapat respons positif, pelaksanaan MBG prasmanan masih memerlukan evaluasi untuk mengetahui efektivitasnya, terutama terkait penggunaan waktu dalam kegiatan belajar mengajar (KBM).
Menurut Anggun, penilaian tersebut penting untuk memastikan sistem penyajian makanan tidak mengganggu proses pembelajaran di sekolah.
“Termasuk nanti efektif atau tidak, berpengaruh dengan jam pembelajaran atau tidak, nanti itu akan jadi evaluasi,” terangnya.
Anggun menambahkan, selain SD 1 Prambatan Lor, sekolah lain di Desa Jepangpakis, Kecamatan Jati, juga sempat ditunjuk sebagai lokasi percontohan program MBG prasmanan. Namun, pelaksanaan di sekolah tersebut kini telah dihentikan.
Penentuan sekolah sasaran maupun evaluasi pelaksanaan program merupakan kewenangan Badan Gizi Nasional (BGN), sehingga hasil uji coba akan menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan keberlanjutan konsep prasmanan di sekolah-sekolah. (J05/A01)










