Jurnalpantura.id, Kudus – Siswa SDN 3 Bulungcangkring, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, harus menghadapi gangguan lalat yang masuk ke lingkungan sekolah. Kondisi tersebut semakin terasa ketika siswa sedang menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG), karena serangga beterbangan di sekitar area sekolah dan tempat makan.
Gangguan lalat disebut sudah dirasakan warga dan pihak sekolah dalam sekitar dua pekan terakhir. Jumlahnya meningkat drastis ketika sejumlah kandang ayam di sekitar sekolah memasuki masa panen. Ribuan lalat kemudian menyebar hingga ke permukiman warga dan lingkungan sekolah.
Salah seorang wali murid, Agus, mengatakan kondisi tersebut cukup mengganggu aktivitas siswa. Menurutnya, keberadaan lalat bukan hanya membuat lingkungan sekolah tidak nyaman, tetapi juga mengganggu konsentrasi anak-anak ketika mengikuti kegiatan belajar mengajar.
“Memang parah sekali lalat di SD itu. Anak-anak sampai belajar ditemani lalat,” ujar Agus saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Rabu, 30/9/2026.
Gangguan paling terasa ketika siswa sedang makan. Lalat yang beterbangan membuat anak-anak tidak nyaman menyantap makanan. Kondisi tersebut juga menimbulkan kekhawatiran wali murid terhadap kebersihan makanan yang dikonsumsi siswa selama berada di sekolah.
Agus menyebut lokasi sekolah cukup dekat dengan sejumlah kandang ayam. Perkiraannya, jarak kandang ayam terdekat dengan sekolah sekitar 50 hingga 100 meter. Keberadaan beberapa kandang di sekitar wilayah tersebut dinilai turut memengaruhi banyaknya lalat yang masuk ke kawasan sekolah.
Menurut Agus, persoalan tersebut sebelumnya telah dibicarakan dalam pertemuan yang melibatkan warga. Namun, pertemuan tersebut belum menghasilkan langkah penanganan yang dinilai mampu mengatasi persoalan lalat secara berkelanjutan, terutama ketika kandang ayam memasuki masa panen.
“Intinya warga ingin ada tanggung jawab dari pengusaha kandang. Kalau lalatnya jumlahnya tidak wajar dan berlangsung berhari-hari, kandangnya harus ada penanganan,” katanya.
Kepala SDN 3 Bulungcangkring, Jamari, membenarkan bahwa keberadaan lalat menjadi salah satu persoalan yang dirasakan di lingkungan sekolah. Namun, menurutnya, jumlah lalat yang muncul tidak selalu sama setiap hari dan cenderung meningkat ketika terjadi aktivitas panen ayam.
“Kalau pas panen (kandang), biasanya lalatnya banyak sekali sampai ke sekolah,” kata Jamari.
Jamari berharap pengelola kandang ayam dapat melakukan perbaikan dalam pengelolaan kandang, terutama setelah proses panen. Menurutnya, penanganan seperti penyemprotan dan pemasangan perangkap lalat dapat membantu, tetapi sifatnya hanya sementara.
“Kalau bisa SOP-nya diperbaiki. Setelah panen jangan sampai lalatnya malah banyak keluar dari kandang dan masuk ke lingkungan warga maupun sekolah,” jelasnya. (J05/A01)










