Jurnalpantura.id, Kudus – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus berupaya mengembangkan potensi wisata kesehatan atau health tourism dengan mengintegrasikan pelayanan medis dan sektor pariwisata.
Gagasan ini digodok menyusul banyaknya pasien dari luar daerah yang menjalani perawatan di rumah sakit di Kabupaten Kudus.
Nantinya, pasien maupun keluarga yang mendampingi diharapkan dapat memanfaatkan waktu kunjungan untuk mengenal destinasi wisata, mencicipi kuliner khas, hingga berwisata religi.
Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, menyampaikan gagasan tersebut dalam Rapat Koordinasi Usulan Pengembangan Health Tourism, Selasa, 27/10/2026.
Menurutnya, keberadaan rumah sakit dan tingginya kunjungan pasien dari luar daerah merupakan peluang yang dapat dikembangkan untuk memberikan nilai tambah bagi sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat setempat.
Sam’ani menilai, keluarga pasien maupun pengunjung rumah sakit berpotensi menjadi bagian dari pasar wisata di Kabupaten Kudus. Karena itu, mereka diharapkan tidak hanya beraktivitas di lingkungan rumah sakit, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengunjungi berbagai destinasi yang tersedia.
“Mereka jangan dibiarkan, mereka juga diberi kesempatan untuk kulineran atau wisata di Kabupaten Kudus,” ujarnya.
Selain mendorong aktivitas wisata, pengembangan health tourism juga diarahkan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Kudus. Pemkab berharap rumah sakit terus berbenah agar mampu memberikan pelayanan berkualitas dengan standar internasional.
Potensi ini dinilai semakin terbuka karena Kudus kerap menjadi tuan rumah berbagai kegiatan olahraga yang memungkinkan kedatangan atlet asing beserta keluarga mereka.
“Bagaimana kita meningkatkan pelayanan yang standarnya internasional, sehingga nanti para pengguna layanan kesehatan di Kabupaten Kudus merasa percaya dan mantap di Kudus untuk berobat,” jelas Sam’ani.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, dr. Abdul Hakam, menjelaskan bahwa pengembangan konsep tersebut akan dilakukan secara bertahap.
Dalam enam bulan pertama, pihaknya berencana menyiapkan fondasi pengembangan health tourism. Selanjutnya, program akan diarahkan untuk terus berkembang dalam kurun waktu maksimal tiga tahun.
Salah satu upaya yang dipertimbangkan ialah melakukan studi tiru ke Tawangmangu guna mempelajari model wisata kesehatan yang dapat dijadikan referensi.
Abdul Hakam menyebutkan, pasien dari luar daerah menjadi salah satu potensi utama dalam pengembangan program tersebut. Berdasarkan informasi yang disampaikannya, sekitar 30 hingga 40 persen pasien yang dirawat di rumah sakit di Kabupaten Kudus berasal dari luar daerah.
Potensi ini ingin dioptimalkan melalui kolaborasi dengan rumah sakit agar pasien yang telah menjalani pengobatan dapat menikmati kegiatan pendukung, seperti wisata kuliner, ziarah, serta aktivitas yang menunjang kesehatan mental.
Pengembangan health tourism tersebut diharapkan dapat memperluas manfaat layanan kesehatan sekaligus memperkuat sektor pariwisata Kudus.
Pemkab juga ingin mengembangkan konsep therapy tourism yang tidak hanya memperhatikan kesehatan fisik, tetapi juga kesejahteraan mental dan batin.
“Kita punya jargon Kudus Sehat, sehat secara fisik dan juga sehat secara batin ataupun secara jiwa,” kata Abdul Hakam. (J05/A01)










