oleh

Jelang Imlek, Perajin Kue Keranjang Kebanjiran Order

Jurnalpantura.id, Kudus – Sebagai tradisi warga Tionghoa dalam merayakan Imlek, perajin kue keranjang di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, kebanjiran pesanan dari berbagai daerah.

Meski masih dalam kondisi pandemi, hal ini tak berpengaruh dengan minat warga untuk merayakan imlek dengan bagi bagi kue keranjang.

Seperti yang dialami pengrajin kue keranjang milik Paulus Andi di Kudus yang sudah dipenuhi pesanan.

Namun siapa sangka , membuat kue keranjang tidaklah mudah. Pasalnya, membuat kue keranjang bisa membutuhkan waktu hingga 8 jam hingga selesai.

“Untuk membuat kue keranjang sendiri cukup lama. Setelah membuat adonan dari tepung ketan dan gula kemudian dicetak hingga dikukus setidaknya membutuhkan waktu sekitar delapan jam hingga selesai,” Paulus Andi Pengusaha Kue Keranjang, Rabu 10/02/2021.

Lanjut Paulus, jika sebelumnya kue keranjang dicetak dengan menggunakan anyaman bambu ukuran kecil berbentuk keranjang. Namun kini, mencetak kue keranjang bisa menggunakan cetakan khusus bahan aluminium sehingga bisa lebih cepat matang saat dikukus.

Menurutnya, kue keranjang identik sebagai jajanan khas di moment imlek. “Kue keranjang memiliki rasa yang manis dan tekstur yang lengket yang dimaknai untuk mempererat tali persaudaraan,” paparnya.

Paulus sendiri hanya mulai memproduksi kue keranjang saat jelang perayaan Imlek.

Meski di tengah kondisi pandemi, Paulus mengatakan, permintaan kue keranjang tak surut peminat.

“Semakin mendekati perayaan Imlek pesanan kue keranjang justru semakin ramai dari berbagai daerah di Pulau Jawa ini,” tandasnya.

Selain sebagai menu pelengkap Imlek, kue keranjang biasanya dibagikan pada tetangga dan fakir miskin oleh umat Tionghoa.

“Pembagian kue keranjangpun tidak dibatasi hanya untuk kaum Tionghoa. Tapi dibagikan bagi warga umum. Tujuanya agar kemeriahan perayaan Imlek bisa dirasakan seluruh lapisan masyarakat,” ucapnya.

Sementara itu, Agustina salah satu pembeli mengatakan, kue keranjang milik Paulus banyak diminati, termasuk dirinya.

“Dijual dengan harga Rp 40 ribu per kilogram, dengan berbagai varian rasa,” katanya. (J03/A02)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed