Jurnalpantura.id, Kudus – Festival Film Anak Bangsa (FFAB) 2026 mencapai puncaknya melalui malam penganugerahan yang digelar di Balai Budaya Rejosari, Kabupaten Kudus, Sabtu, 20 Juni 2026 malam.
Dalam ajang yang memasuki tahun kedua penyelenggaraan ini, panitia mengumumkan sembilan kategori penghargaan bagi karya dan insan perfilman terbaik dari berbagai daerah di Indonesia.
Suasana malam penghargaan semakin meriah dengan kehadiran aktris Faradina Mufti yang bertugas sebagai dewan juri, serta sutradara Ravacana Films, Wahyu Agung Prasetyo.
Acara dibuka dengan penampilan Tari Lajur Caping Kalo dan Tari Caping Kalo yang merepresentasikan identitas budaya Kudus sebagai Kota Kretek. Pertunjukan tersebut menjadi pembuka sebelum rangkaian pengumuman pemenang dan peluncuran platform perfilman digital sinea.id.
Penggagas FFAB dari GsT Production, Asa Jatmiko, mengatakan festival ini hadir sebagai ruang kreatif yang mendorong perkembangan sineas daerah. Menurutnya, FFAB tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga wadah kolaborasi bagi komunitas, rumah produksi, dan pelaku perfilman di berbagai wilayah Indonesia.
“Melalui FFAB ini kami ingin tumbuh dan berkembang bersama para sineas daerah. FFAB menjadi ruang kreasi untuk mencerdaskan anak bangsa melalui kesenian dan kebudayaan, sekaligus memperkuat ekosistem perfilman daerah agar terus eksis,” ujar Asa.
Antusiasme peserta pada FFAB 2026 meningkat dibanding tahun sebelumnya. Tercatat sebanyak 249 karya dari berbagai daerah, mulai Sumatera, Lombok, Samarinda, Flores hingga Papua, telah masuk dalam basis data festival dan ditayangkan melalui platform sinea.id yang diperkenalkan pada malam puncak tersebut.
Setelah melewati proses kurasi terhadap 30 karya terbaik, dewan juri akhirnya menetapkan para pemenang di sembilan kategori. Faradina Mufti mengaku terkesan dengan kualitas film yang berhasil masuk tahap nominasi karena dinilai memiliki penggarapan yang matang dari berbagai aspek produksi.
“Saya cukup kaget melihat film-film yang terkurasi. Ini bukan film yang dikerjakan seadanya, tetapi dipersiapkan dengan sangat baik. Menentukan lima nominasi di setiap kategori juga cukup sulit,” kata Faradina.
Menurut Faradina, tema-tema yang diangkat para peserta menunjukkan kepekaan terhadap persoalan sehari-hari yang sering luput dari perhatian. Ia menilai karya-karya tersebut mampu mengajak penonton melihat lingkungan sekitar dengan perspektif yang lebih empatik dan mendalam.
Pada malam penghargaan itu, film Will Today Be A Happy Day karya M. Kanz Daffa berhasil meraih penghargaan Sutradara Terbaik sekaligus Film Terbaik FFAB 2026. Sementara film Kotak Amal memperoleh penghargaan Artistik Terbaik dan Penghargaan Khusus. (J05/A01)










