Jurnalpantura.id, Kudus – Anggota MPR RI Musthofa mengingatkan generasi muda agar tidak hanya menghafal Pancasila, tetapi menjadikan nilai-nilainya sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Pesan tersebut disampaikan Musthofa saat menjadi narasumber dalam Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan MPR RI di Aula SMA Negeri 2 Bae, Kabupaten Kudus, Sabtu 12/09/2026.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 150 peserta yang terdiri dari guru dan siswa.
Di hadapan para peserta, mantan Bupati Kudus dua periode itu menjelaskan bahwa Pancasila bukan sekadar rangkaian sila yang harus dihafalkan. Pancasila merupakan dasar sekaligus ideologi negara yang menjadi arah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurut Musthofa, kekuatan Pancasila terletak pada kemampuannya menyatukan nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial dalam satu kesatuan.
“Sebagai ideologi negara, Pancasila memberikan jawaban atas pertanyaan Indonesia ingin menjadi bangsa seperti apa. Kita ingin menjadi bangsa yang berketuhanan, menghargai kemanusiaan, menjaga persatuan, menjalankan demokrasi melalui musyawarah, dan mewujudkan keadilan sosial,” ujar Musthofa.
Dalam sesi dialog, sejumlah siswa turut menanyakan fenomena saling ejek dan perdebatan yang membawa isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) di media sosial.
Menanggapi hal tersebut, Musthofa menilai semboyan Bhinneka Tunggal Ika justru semakin penting di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi.
Ia mengatakan, keberagaman merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Namun, menjaga persatuan merupakan pilihan sekaligus tanggung jawab bersama.
“Bhinneka Tunggal Ika bukan berarti kita harus sama. Semboyan ini mengajarkan bahwa meskipun berbeda, kita tetap memiliki rumah yang sama, yaitu Indonesia. Perbedaan adalah kenyataan, tetapi persatuan adalah pilihan dan tanggung jawab kita bersama,” tegas legislator asal Kudus tersebut.
Musthofa juga mengingatkan generasi muda agar lebih bijak menggunakan media sosial. Informasi yang bersifat provokatif, menurutnya, tidak seharusnya ikut disebarluaskan karena dapat memicu perselisihan di tengah masyarakat.
Ia mendorong para pelajar untuk mengedepankan dialog ketika menghadapi perbedaan pendapat serta terus menjaga semangat gotong royong.
“Persatuan bangsa tidak akan terwujud jika hanya berhenti pada semboyan. Harus ada tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari,” pesannya.
Selain memberikan pemahaman mengenai nilai-nilai kebangsaan, Musthofa juga membagikan kiat kepemimpinan kepada para siswa.
Ia menekankan tiga hal yang dinilai penting bagi generasi muda untuk menghadapi perubahan zaman, yakni disiplin, konsistensi, dan prinsip hidup yang kuat.
«“Kalau ingin sukses, kita membutuhkan tiga hal, yaitu disiplin untuk memulai, konsisten untuk bertahan, dan ideologi untuk menentukan arah,” katanya.»
Ia kemudian menjelaskan bahwa ketiganya harus berjalan beriringan. Kerja keras tanpa prinsip dapat membuat seseorang kehilangan arah. Sebaliknya, prinsip tanpa disiplin membuat seseorang tidak mampu memulai, sedangkan disiplin tanpa konsistensi membuat perjuangan mudah berhenti di tengah jalan.
“Orang yang bekerja keras tanpa prinsip bisa kehilangan arah, orang yang punya prinsip tetapi tidak disiplin tidak akan bergerak, dan orang yang disiplin tetapi tidak konsisten akan berhenti di tengah jalan,” pungkasnya. (J02/A01)










