Jurnalpantura.id, Rembang – Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, bersiap menjadi lokasi pembuatan lukisan garam yang diproyeksikan menjadi karya terbesar di dunia.
Proyek seni tersebut akan mempertemukan 20 seniman, terdiri atas 10 seniman peserta residensi dari berbagai daerah dan 10 seniman-petani garam Dasun.
Karya tersebut akan diwujudkan dalam rangkaian Festival Garam Dasun 2026. Sebelum proses pembuatan lukisan, sepuluh seniman terpilih akan mengikuti program residensi selama empat hari pada 14-17 Oktober 2026.
Para seniman peserta residensi sebelumnya terpilih melalui proses open call yang berlangsung pada 9-25 September 2026. Puluhan portofolio dari seniman berbagai daerah masuk dan kemudian diseleksi oleh kurator bersama panitia festival.
Kurator Festival Garam Dasun, Eggy Yunaedi, mengatakan keberagaman latar belakang peserta menjadi bagian penting dalam program tersebut. Para seniman yang terpilih memiliki pengalaman yang beragam, mulai dari aktivitas seni berbasis komunitas hingga pengalaman akademik dan keterlibatan dalam kegiatan seni berskala internasional.
Menurut Eggy, pertemuan berbagai perspektif tersebut diharapkan dapat memperkaya pembahasan mengenai garam, kehidupan petani garam, serta budaya masyarakat pesisir.
Selama mengikuti residensi, para seniman tidak hanya berkegiatan di ruang seni. Mereka akan tinggal di rumah warga Desa Dasun dan berinteraksi secara langsung dengan para petani garam.
Dalam proses tersebut, mereka akan mempelajari berbagai pengetahuan mengenai garam, termasuk sejarah produksi garam di Lasem, proses pengolahan dari tambak hingga menjadi produk konsumsi, serta kehidupan masyarakat yang menggantungkan aktivitasnya pada kawasan tambak.
Eggy menjelaskan, residensi menjadi salah satu bagian penting karena pengetahuan yang diperoleh seniman dari masyarakat nantinya akan diterjemahkan melalui proses kreatif.
“Selain ingin memperluas perspektif lewat para seniman yang berasal dari berbagai daerah dan latar belakang, kolaborasi ini merupakan bagian dari strategi diseminasi pengetahuan. Kami ingin pengetahuan tentang garam menyebar, hidup, ditubuhkan, dan diterjemahkan kembali melalui bahasa seni oleh para seniman bersama warga,” ujar Eggy.
Salah satu peserta residensi, Tri Wahyudi dari Yogyakarta, menyambut kesempatan tersebut sebagai ruang untuk bertukar gagasan dengan masyarakat petani garam.
Ia mengaku bersyukur dapat terlibat dalam proses kreatif bersama masyarakat Dasun sekaligus ikut mengenalkan kekayaan budaya lokal melalui karya seni.
Sementara itu, Kharisma Widya Kartika dari Rembang berharap residensi tersebut dapat membantunya memahami lebih jauh karakter garam Dasun dan lingkungan yang menopang produksi garam. Ia juga ingin mendapatkan pengalaman berkesenian secara kolektif dengan menjadikan garam sebagai medium.
Meneruskan Gagasan Nasirun
Puncak kegiatan akan diwujudkan melalui kolaborasi 10 seniman peserta residensi dengan 10 seniman-petani garam Dasun. Mereka akan menggarap karya bertajuk “Lukisan Garam (meneruskan) Nasirun”.
Gagasan tersebut berkaitan dengan pertemuan maestro seni rupa Indonesia, Nasirun, dengan seniman-petani garam Dasun yang didampingi Eggy Yunaedi sebelum Nasirun meninggal dunia pada 1 Agustus 2026.
Dari pertemuan itu muncul gagasan untuk menciptakan karya bersama dengan garam sebagai bagian utama. Setelah Nasirun berpulang, gagasan tersebut kemudian dilanjutkan melalui kolaborasi para seniman dan petani garam Dasun.
Mulyono, salah seorang seniman-petani garam yang terlibat, mengatakan kolaborasi tersebut memberikan pengalaman baru bagi para petani. Garam yang selama ini menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari di tambak akan dipandang dari perspektif yang lebih luas melalui seni.
“Selama ini garam adalah bagian dari keseharian kami sebagai petani, dari tambak hingga menjadi sumber penghidupan. Melalui lukisan dan kolaborasi dengan para seniman dari berbagai daerah, kami ingin garam tidak hanya dilihat sebagai komoditas, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan, pengetahuan, dan cerita masyarakat petani garam,” kata Mulyono.
Seniman-petani garam lainnya, Arief Yulianto, berharap pertemuan antara seniman dengan petani dapat membuka kesempatan lebih besar untuk memperkenalkan garam Dasun melalui karya seni.
Menurutnya, kegiatan di tambak yang selama ini terlihat sederhana ternyata menyimpan banyak pengetahuan dan cerita yang dapat dikembangkan menjadi bagian dari karya.
“Kami berharap kolaborasi ini membuat seni dan pengetahuan tentang garam semakin dikenal luas. Apa yang kami lakukan di tambak selama ini mungkin terlihat sederhana, tetapi ketika dipertemukan dengan dunia seni, ternyata memiliki banyak cerita dan pengetahuan yang bisa dibagikan kepada masyarakat,” ujarnya.
Karya kolaboratif tersebut ditargetkan menjadi lukisan garam terbesar di dunia. Ukurannya diproyeksikan melampaui karya “Bancaan Rupa” yang dibuat pada 2023 dan telah tercatat dalam Rekor Dunia MURI.
10 Seniman Peserta Residensi
Sepuluh seniman yang terpilih dalam program residensi tersebut yakni Tri Wahyudi dari Yogyakarta, Putut Pasopati dari Pati, Prabowo Setyadi dari Jatiwangi, Budi Karya dari Jepara, serta Aqilur Rachman Abdul Charizs dari Jakarta.
Kemudian Dwiki Naufal Ilham dari Lasem, Sonia Prabowo dari Yogyakarta, Munna Laili Hidayana dari Kediri, Kharisma Widya Kartika dari Rembang, dan Andita Purnamasari dari Yogyakarta.
Mereka nantinya berkolaborasi dengan 10 seniman-petani garam Dasun, yakni Tri Murti, Mulyono, Arif Yulianto, M. Sholeh, Suparlan, Mariyadi, Suparno, Agung Wibowo, Anas Kristiawan, dan Rohmadi.
Proses berkarya juga akan mendapatkan pendampingan teknis dari Sofyan Deer, Yoyok van Badem, De Tejo, Ariz Lukman, dan Eddie Suryono.
Ketua Panitia Festival Garam Dasun 2026, Angga Hermansah, mengatakan karya tersebut tidak hanya diarahkan sebagai pencapaian dalam bidang seni. Menurutnya, lukisan garam juga menjadi medium untuk memperlihatkan pengalaman dan kehidupan petani garam kepada masyarakat luas.
Angga menyebut karya tersebut membawa dua pesan sekaligus, yakni ungkapan syukur para petani atas kehidupan yang mereka jalani serta ruang untuk menyampaikan realitas yang mereka hadapi di kawasan tambak.
“Lukisan garam ini adalah ungkapan syukur para petani garam atas apa yang telah mereka jalani dan warisi dari kehidupan di tambak. Namun pada saat yang sama, karya ini juga menjadi cara mereka menyuarakan realitas yang mereka hadapi kepada publik,” ungkap Angga.
Melalui Festival Garam Dasun 2026, masyarakat, pegiat seni, dan media diajak menyaksikan proses kolaborasi tersebut. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang pertemuan antara seni, pengetahuan lokal, budaya pesisir, dan kehidupan para petani garam di Desa Dasun, Lasem, Rembang. (J02/A01)










