JurnalPantura.id, Kudus – Suasana unik ratusan siswa menari dalam balutan Tari Kretek diiringi penampilan barongsai dan liong yang meliuk penuh semangat dalam upacara Pembukaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-125 Tahun 2025 di Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kudus pada Rabu (23/7/2025).
Kolaborasi seni yang memukau ini menjadi pembuka dari rangkaian TMMD yang digelar Kodim 0722/Kudus. Dua budaya berbeda antara Jawa dan Tionghoa berpadu serentak dalam satu tempat, dalam satu semangat yakni membangun bersama.
Disaksikan ratusan masyarakat, termasuk unsur Forkopimda, DPRD, OPD, tokoh masyarakat, hingga elemen budaya, momen ini menjadi simbol kuat dari wajah Kudus sebagai kota toleransi yang hidup dalam harmoni.
Momen pembukaan ini bukan sekadar seremonial, melainkan juga menjadi panggung simbolik bagi semangat gotong-royong, akulturasi budaya, dan kolaborasi lintas elemen masyarakat.
Sebanyak 350 pelajar membawakan tari kretek khas Kudus, berpadu megah dengan barongsai dan liong dari komunitas Tionghoa Kelenteng Kudus.
Kedua unsur budaya itu bergerak selaras, menyampaikan satu pesan kuat: dari Kudus, toleransi dan persatuan dijaga, dibangun, dan diwariskan.
“Ini bukan sekadar atraksi. Ini pesan. Kami ingin menunjukkan bahwa dalam perbedaan budaya, kita bisa rukun, kita bisa satu,” ujar Komandan Kodim 0722/Kudus Letkol Inf Hermawan Setya Budi seusai upacara.
Ia menegaskan, penampilan tari kolosal itu memang dirancang sebagai representasi filosofi TMMD: bersama rakyat, TNI membangun desa.
“Membangun itu tidak cukup dengan fisik. Harus ada persatuan hati. Harus ada keterlibatan semua golongan. Inilah makna dari TMMD,” tuturnya.
Ketua Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Kudus sekaligus pembina barongsai, Valerie Yudistira Pramudya, menyambut baik kolaborasi budaya dalam pembukaan TMMD.
Menurutnya, pertunjukan ini menunjukkan bahwa Kudus tidak hanya kuat dalam tradisi, tetapi juga kokoh dalam toleransi.
“Barongsai dan tari kretek hari ini adalah simbol. Kudus adalah rumah bersama. Ras, suku, agama, semua bisa duduk sejajar, menari bersama, membangun bersama,” ujarnya.
“Kami ingin seni menjadi alat untuk menyatukan, dari masyarakat bawah sampai elit, semua bisa bersinergi,” lanjut Valerie.
Salah satu peserta tari, Sinthya Dewi Pertiwi mengaku bangga dapat turut berpartisipasi dalam tari Kretek yang disaksikan langsung oleh berbagai elemen ini.
Menurutnya, Tari Kretek sudah saatnya dikenal lebih luas dan patut dibanggakan menjadi tari Nusantara dan ditampilkan di berbagai ajang.
“Senang sekali rasanya bisa turut terlibat langsung dalam pembukaan TMMD ini, semoga penampilan kami dapat mencerminkan simbol toleransi dan harmoni yang tidak semata menampilkan karya, namun juga jadi penggerak dari arti saling menghormati antar budaya,” tandasnya.










