Jurnalpantura.id, Kudus – Khilda Evita Aisya, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muria Kudus (UMK), mengaku bangga dapat meraih predikat wisudawan terbaik pada Wisuda ke-77 UMK.
Ia berhasil menyelesaikan pendidikan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,95, sebuah pencapaian yang diraih melalui kerja keras, konsistensi belajar, dan keberanian mengambil berbagai kesempatan.
Menariknya, Khilda mengaku tidak pernah secara khusus menargetkan diri untuk menjadi mahasiswa terbaik. Sejak awal kuliah, ia hanya ingin memanfaatkan kesempatan mengenyam pendidikan tinggi untuk mengembangkan kemampuan dan mencoba berbagai hal baru.
“Jujur, sebelumnya saya tidak berekspektasi menjadi mahasiswa terbaik. Awalnya, sebagai mahasiswa, saya hanya mencoba untuk menjadi yang terbaik bagi diri saya sendiri. Mumpung mendapat kesempatan belajar di jenjang yang lebih tinggi, mari kita coba menggali potensi diri sebanyak mungkin,” ungkapnya.
Perjalanan prestasi Khilda mulai berkembang ketika memasuki semester tiga pada 2023. Saat itu, ia mendapat kesempatan mengikuti kompetisi inovasi internasional, International Inventors Day (INOVA), yang diselenggarakan di kawasan Jimbaran, Bali.
Meski belum memiliki banyak pengalaman mengikuti perlombaan, ia memberanikan diri mengambil kesempatan tersebut. Hasilnya, tim yang diikutinya berhasil membawa pulang medali emas.
Keberhasilan di Bali menjadi awal dari berbagai pencapaian berikutnya. Dalam kompetisi yang diselenggarakan oleh IESA di Surabaya, Khilda bersama tim kembali menorehkan prestasi dengan meraih tiga penghargaan sekaligus, yakni medali emas, Best Presentation, dan Special Award.
Ia juga kembali memperoleh medali emas dalam kompetisi di Jakarta, yang semakin mendorongnya untuk terus mengembangkan potensi di bidang inovasi dan penelitian.
Tak berhenti di kompetisi inovasi, Khilda mulai memperluas pengalamannya dengan mengikuti perlombaan menulis esai. Salah satu pencapaiannya adalah meraih juara kedua dalam Global Insight Essay, sebuah ajang yang diselenggarakan melalui kerja sama UMK dengan Universiti Teknologi Malaysia.
Berbagai pengalaman tersebut tidak hanya menambah deretan prestasi, tetapi juga memberinya kesempatan untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, menulis, dan menyampaikan gagasan.
Pengalaman internasional Khilda juga bertambah ketika ia lolos seleksi sebagai salah satu dari delapan mahasiswa yang mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional di Malaysia selama 28 hari.
Dalam program tersebut, ia bersama peserta lainnya terlibat dalam kegiatan pendidikan bagi anak-anak keluarga pekerja migran Indonesia yang memiliki keterbatasan akses terhadap pendidikan formal.
“Kita mengajar di salah satu sanggar bimbingan yang berada di bawah naungan pemerintah Indonesia melalui Sekolah Indonesia Kuala Lumpur,” katanya.
Di balik pencapaian akademik dan berbagai pengalaman internasional tersebut, Khilda tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai guru honorer, sedangkan ibunya merupakan ibu rumah tangga yang turut membantu perekonomian keluarga dengan berjualan gorengan dan menjaga parkir.
Sejak sebelum berangkat kuliah, Khilda terbiasa membantu ibunya menyiapkan dagangan hingga menjaga parkir. Setelah menjalani perkuliahan, ia juga mengajar les untuk menambah uang saku serta mengabdikan diri dengan mengajar di pondok pesantren.
Kemandirian Khilda semakin terasah melalui perjuangannya memperoleh bantuan biaya pendidikan. Pada 2022, ia mengikuti seleksi beasiswa tahfiz yang hanya menyediakan dua kuota untuk satu universitas.
Berbekal hafalan 30 juz Al-Qur’an, ia memberanikan diri mendaftar meskipun menghadapi persaingan dengan banyak peserta lainnya.
Keberhasilannya memperoleh beasiswa tersebut membuat biaya pendidikannya diringankan melalui pembebasan Uang Kuliah Tunggal (UKT) selama delapan semester hingga biaya wisuda, sehingga membantu mengurangi beban ekonomi keluarganya.
Kini, setelah menyelesaikan pendidikan tinggi dengan predikat wisudawan terbaik, Khilda mulai menapaki profesinya sebagai guru.
“Saya mantap untuk menjadi guru,” tandasnya.
Dengan IPK 3,95 serta sederet pencapaian di bidang akademik dan nonakademik, Khilda berharap dapat melanjutkan perjuangannya sebagai pendidik sekaligus menginspirasi generasi muda agar berani mengembangkan potensi diri dan memberikan manfaat bagi sesama. (J05/A01)










