Jurnalpantura.id, Kudus – Pemuda Desa Cendono menggelar diskusi sejarah dan potensi nilai sosial budaya desa di Dukuh Cendono, Desa Cendono, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Rabu (28/12/2022).
Para tokoh masyarakat dan agama dihadirkan dalam acara diskusi. Selain itu, Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Kudus, R Lilik Ngesti Widyastuti juga ikut duduk bersama dalam forum.
Kabid Pemberdayaan Masyararakat PMD Kudus, Lilik Ngesti Widyastuti mengaku, banyak menaruh harapan kepada pemuda dan masyarakat Cendono untuk menggali potensi sejarah desa.
Menurut Lilik, Desa Cendono memiliki nilai sosial budaya dan narasi sejarah yang kuat. Ia juga mengaku banyak belajar dari tokoh setempat tentang Pangeran Cendono, masjid tua yang didirikan sejak 1776, kayu Nogososro dan masih banyak lagi.
“Ini potensi luar biasa yang harus diangkat dan digarap oleh para pemuda kreatif di sini,” ujar dia, Rabu (29/12/2022).
Senada, Tokoh Masyarakat yang juga Guru MA NU Miftahul Falah Cendono, Kiai Saifuddin juga mendukung adanya upaya pemajuan nilai sosial budaya yang ada di Desa Cendono. Menurutnya langkah itu penting agar generasi muda masa depan tidak “kepaten obor”.
“Kebudayaan atau tradisi masa lalu banyak menyimpan kearifan yang penting untuk dilestarikan sampai kapanpun,” katanya, Rabu (29/12/2022).
Dirinya menerangkan, Nabi Muhammad sendiri telah mencontohkan bagaimana syariat Islam itu mengakomodasi budaya lokal. Seperti halnya aqiqah dan tawaf itu dulu diadopsi dari budaya lokal masyarakat Arab.
Hanya saja, laku yang tidak sesuai syariat beliau ganti sehingga tidak membawa dampak buruk bagi pelakunya.
“Walisongo pun juga banyak mengakomodasi budaya lokal dalam dakwahnya. Jadi, tidak semua kebudayaan lokal itu pasti bertentangan dengan syariat Islam,” katanya. (J05/A01)










