Jurnalpantura.id, Kudus – Kebutuhan bahan pokok melonjak jelang natal dan tahun baru di Kabupaten Kudus. Permintaan yang membludak dan suplaiyer dari peternak tidak mencukupi permintaan pun membuat harga melambung tinggi.
Salah satu peternak ayam di Kudus, Abdul mengatakan, pada hari biasa dirinya biasanya menjual sekitar 50 kilogram telur perhari. Namun, menjelang nataru maupun lebaran permintaan dipasar bisa hingga 60 kilogram bahkan lebih perharinya.
“Saat ini ada 1200 ekor ayam di kandang, Karna banyaknya permintaan, kami hanya mampu mencukupi pedagang didaerah Gribig saja,” ujarnya, Rabu (7/12/2022).
Harga 1 peti berisi 10 kilo dijual dari suplier Rp 280 ribu. sedangkan, bila sudah di toko bisa dijual Rp 32 ribu per kilonya dengan harga normal hanya Rp 26 ribu.
“Harga bisa saja terus naik, kami belum dapat memprediksi hingga seberapa kenaikannya, namun kami harap juga tidak berangsur terlalu tinggi, kasihan masyarakat,” paparnya.
Dirinya menyebut, jika menjelang hari besar seperti Nataru, pesanan sampai inden 3 hari bahkan bisa lebih. Kondisi ini pun, kata Abdul, sudah terjadi sejak akhir November kemarin.
Menurutnya, momen Nataru memang sering terjadi peningkatan permintaan telur karena banyak orang yang membuat kue untuk Nataru. Tentunya, hal ini berimbas pula terhadap kenaikan penggunaan telur sebagai bahan dasar pembuatan kue.
“Kenaikan harga telur saat ini terjadi karena demand konsumsi telurnya. Permintaan telur meningkat drastis memang saat menjelang nataru maupun lebaran,” ujarnya.
Sementara itu, menanggapi persoalan harga bahan pokok khususnya telur ini, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kudus, Anis Hidayat Ketua Komisi B melalui anggotanya Irwansyah mengatakan bahwa dewan akan meninjau dan memantau harga di pasaran.
“Kami mendorong pemerintah untuk segera melakukan antisioasi, pengawasan dan menstabilkan harga kebutuhan di pasar mengenai lonjakan harga bahan pokok (bapok) menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru). Semoga berangsur membaik,” tandasnya. (J02/A01)










