Warga Desa Klampok Lor Demak Lestarikan Rebana Klasik Warisan Leluhur

- Jurnalis

Senin, 16 September 2024 - 14:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Warga Desa Klampok Lor, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak memainkan alat musik rebana klasik. (Foto: istimewa)

Warga Desa Klampok Lor, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak memainkan alat musik rebana klasik. (Foto: istimewa)

Jurnalpantura.id, Demak – Seni tradisional dari nenek moyang, seperti rebana klasik, semakin terpinggirkan oleh arus modernisasi. Untuk itu, warga Desa Klampok Lor, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak, berkomitmen untuk melestarikannya, terutama melalui acara-acara seperti peringatan Maulid Nabi.

Kastolani, Ketua Grup Rebana setempat, menyayangkan minimnya minat generasi muda untuk belajar dan berlatih rebana klasik.

“Generasi muda seharusnya dapat melestarikan dan mencintai warisan budaya bernuansa Islami ini. Kesenian rebana klasik merupakan bagian penting dari tradisi nenek moyang yang harus kita pertahankan bersama,” ujarnya pada Minggu, 15/09/2024.

Menurut Kastolani, selain mengiringi bacaan Maulid Nabi, latihan rebana klasik juga berfungsi untuk melatih konsentrasi dan menghasilkan irama yang harmonis. Namun, sayangnya hal ini belum disadari oleh banyak generasi muda saat ini.

Baca Juga :  Terbentur Anggaran, Pembangunan SIHT Kudus Diprediksi Lanjut 2027

Kastolani juga menjelaskan bahwa salah satu ciri khas dalam tradisi rebana adalah menaburkan beras kuning dan beberapa koin uang pada acara mahalul qiyam, sebagai simbol doa dan berkah untuk anak-anak.

“Maknanya adalah agar berkah dari peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW dapat dirasakan oleh semua, terutama anak-anak yang masih dalam tahap pembentukan karakter mereka,” tambahnya.

Dukungan untuk melestarikan musik rebana klasik sangat penting, baik dari masyarakat maupun pemerintah. Hal ini diperlukan agar tradisi ini tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

“Harapan kami adalah agar seni rebana klasik tetap dikenal dan dihargai sebagai bagian dari warisan budaya bangsa,” tutup Kastolani. (J05/A01)

Berita Terkait

“Dagdigdug”: Kritik Tajam Teater Satoesh UIN Kudus atas Hilangnya Kejujuran di Tengah Kepalsuan Zaman
Bukti Simbol Toleransi, Barongsai dan Tari Kretek Tampil Bersama Dalam Pembukaan TMMD
Pentas Monolog dan Bedah Buku “Jabrik”, Tandai Kebangkitan Gandrung Sastra
UMKM Unik CFD Kudus Curi Perhatian Bupati, Manfaatkan Kayu Jati Jadi Hiasan Bernilai
Atraksi Budaya dan Seni Khas Kudus Sambut Para Pengunjung di Anjungan Jawa Tengah TMII
Sendratari Ngintun Sega Kepel Guncang Panggung Pentas Duta Seni di Anjungan Jawa Tengah TMII
Komunitas Sastra Gelar Workshop ALAMIPUISI
Ketoprak hingga Pengajian Warnai Syukuran Anggota DPRD Kudus Muhammad Nawawi
Berita ini 261 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 3 Oktober 2025 - 06:10 WIB

“Dagdigdug”: Kritik Tajam Teater Satoesh UIN Kudus atas Hilangnya Kejujuran di Tengah Kepalsuan Zaman

Rabu, 23 Juli 2025 - 18:38 WIB

Bukti Simbol Toleransi, Barongsai dan Tari Kretek Tampil Bersama Dalam Pembukaan TMMD

Minggu, 15 Juni 2025 - 21:44 WIB

Pentas Monolog dan Bedah Buku “Jabrik”, Tandai Kebangkitan Gandrung Sastra

Sabtu, 24 Mei 2025 - 15:27 WIB

UMKM Unik CFD Kudus Curi Perhatian Bupati, Manfaatkan Kayu Jati Jadi Hiasan Bernilai

Senin, 5 Mei 2025 - 12:50 WIB

Atraksi Budaya dan Seni Khas Kudus Sambut Para Pengunjung di Anjungan Jawa Tengah TMII

Berita Terbaru