Jurnalpantura.id, Demak – Seni tradisional dari nenek moyang, seperti rebana klasik, semakin terpinggirkan oleh arus modernisasi. Untuk itu, warga Desa Klampok Lor, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak, berkomitmen untuk melestarikannya, terutama melalui acara-acara seperti peringatan Maulid Nabi.
Kastolani, Ketua Grup Rebana setempat, menyayangkan minimnya minat generasi muda untuk belajar dan berlatih rebana klasik.
“Generasi muda seharusnya dapat melestarikan dan mencintai warisan budaya bernuansa Islami ini. Kesenian rebana klasik merupakan bagian penting dari tradisi nenek moyang yang harus kita pertahankan bersama,” ujarnya pada Minggu, 15/09/2024.
Menurut Kastolani, selain mengiringi bacaan Maulid Nabi, latihan rebana klasik juga berfungsi untuk melatih konsentrasi dan menghasilkan irama yang harmonis. Namun, sayangnya hal ini belum disadari oleh banyak generasi muda saat ini.
Kastolani juga menjelaskan bahwa salah satu ciri khas dalam tradisi rebana adalah menaburkan beras kuning dan beberapa koin uang pada acara mahalul qiyam, sebagai simbol doa dan berkah untuk anak-anak.
“Maknanya adalah agar berkah dari peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW dapat dirasakan oleh semua, terutama anak-anak yang masih dalam tahap pembentukan karakter mereka,” tambahnya.
Dukungan untuk melestarikan musik rebana klasik sangat penting, baik dari masyarakat maupun pemerintah. Hal ini diperlukan agar tradisi ini tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
“Harapan kami adalah agar seni rebana klasik tetap dikenal dan dihargai sebagai bagian dari warisan budaya bangsa,” tutup Kastolani. (J05/A01)










