Upaya Gali Potensi Desa, Pemuda Cendono Kudus Gelar Diskusi Sejarah

- Jurnalis

Jumat, 30 Desember 2022 - 07:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Diskusi sejarah dan potensi nilai sosial budaya desa di Dukuh Cendono, Desa Cendono, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. (Foto:J02)

Diskusi sejarah dan potensi nilai sosial budaya desa di Dukuh Cendono, Desa Cendono, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. (Foto:J02)

Jurnalpantura.id, Kudus – Pemuda Desa Cendono menggelar diskusi sejarah dan potensi nilai sosial budaya desa di Dukuh Cendono, Desa Cendono, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Rabu (28/12/2022).

Para tokoh masyarakat dan agama dihadirkan dalam acara diskusi. Selain itu, Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Kudus, R Lilik Ngesti Widyastuti juga ikut duduk bersama dalam forum.

Kabid Pemberdayaan Masyararakat PMD Kudus, Lilik Ngesti Widyastuti mengaku, banyak menaruh harapan kepada pemuda dan masyarakat Cendono untuk menggali potensi sejarah desa.

Menurut Lilik, Desa Cendono memiliki nilai sosial budaya dan narasi sejarah yang kuat. Ia juga mengaku banyak belajar dari tokoh setempat tentang Pangeran Cendono, masjid tua yang didirikan sejak 1776, kayu Nogososro dan masih banyak lagi.

“Ini potensi luar biasa yang harus diangkat dan digarap oleh para pemuda kreatif di sini,” ujar dia, Rabu (29/12/2022).

Baca Juga :  Metal Society Ajak Warga Kudus Promosikan Budaya Warisan Leluhur

Senada, Tokoh Masyarakat yang juga Guru MA NU Miftahul Falah Cendono, Kiai Saifuddin juga mendukung adanya upaya pemajuan nilai sosial budaya yang ada di Desa Cendono. Menurutnya langkah itu penting agar generasi muda masa depan tidak “kepaten obor”.

“Kebudayaan atau tradisi masa lalu banyak menyimpan kearifan yang penting untuk dilestarikan sampai kapanpun,” katanya, Rabu (29/12/2022).

Dirinya menerangkan, Nabi Muhammad sendiri telah mencontohkan bagaimana syariat Islam itu mengakomodasi budaya lokal. Seperti halnya aqiqah dan tawaf itu dulu diadopsi dari budaya lokal masyarakat Arab.

Hanya saja, laku yang tidak sesuai syariat beliau ganti sehingga tidak membawa dampak buruk bagi pelakunya.

“Walisongo pun juga banyak mengakomodasi budaya lokal dalam dakwahnya. Jadi, tidak semua kebudayaan lokal itu pasti bertentangan dengan syariat Islam,” katanya. (J05/A01)

Berita Terkait

Giring Ganesha Jadi Fotografer Dadakan, Abadikan Penampilan Istri Kenakan Kebaya Kudus dan Caping Kalo
Caping Kalo Nyaris Punah, Kementerian Kebudayaan Siap Kawal Jadi WBTB
670 Penari Lajur Caping Kalo Ukir Rekor MURI Dunia, Budaya Kudus Makin Dikenal
Puluhan Pecahan Mustaka Masjid Kuno Ditemukan di Kudus, Diperkirakan Berusia 400 Tahun
Sandhivarta Patiayam Kembali Digelar, Pemkab Kudus Ajak Generasi Muda Kenali Sejarah
Perbukitan Slumprit dan Situs Sudo Diusulkan Jadi Satu Kawasan Cagar Budaya Tingkat Jawa Tengah
Bidik MURI, Kudus Siapkan Atraksi Kolosal 477 Penari Lajur Caping Kalo di Perayaan Hari Jadi
Gedung Dekranasda dan BPP Gebog Selangkah Lagi Jadi Cagar Budaya Kudus
Berita ini 281 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 12:29 WIB

Giring Ganesha Jadi Fotografer Dadakan, Abadikan Penampilan Istri Kenakan Kebaya Kudus dan Caping Kalo

Sabtu, 26 September 2026 - 11:55 WIB

Caping Kalo Nyaris Punah, Kementerian Kebudayaan Siap Kawal Jadi WBTB

Sabtu, 26 September 2026 - 11:12 WIB

670 Penari Lajur Caping Kalo Ukir Rekor MURI Dunia, Budaya Kudus Makin Dikenal

Rabu, 16 September 2026 - 12:23 WIB

Puluhan Pecahan Mustaka Masjid Kuno Ditemukan di Kudus, Diperkirakan Berusia 400 Tahun

Jumat, 28 Agustus 2026 - 12:20 WIB

Sandhivarta Patiayam Kembali Digelar, Pemkab Kudus Ajak Generasi Muda Kenali Sejarah

Berita Terbaru