Jurnalpantura id, Kudus – Aksi tawuran dan munculnya kelompok gangster remaja yang meresahkan warga di Kabupaten Kudus mendapat perhatian serius dari DPRD Kudus.
Anggota Komisi D DPRD Kudus, Kholid Mawardi, meminta penanganan persoalan tersebut dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari keluarga, sekolah hingga pemerintah daerah.
Menurut Kholid, fenomena remaja yang nekat membawa senjata tajam dan melakukan aksi kekerasan di lingkungan permukiman tidak bisa dianggap sekadar kenakalan biasa.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi tanda adanya persoalan sosial yang perlu segera dicari akar penyebabnya.
“Kalau muncul kasus seperti ini, berarti ada kegelisahan di kalangan anak muda yang belum tertangkap oleh negara maupun lingkungan keluarga,” ujarnya, Selasa (12/5/2026).
Politisi Partai Golkar itu mengatakan selama ini Kudus dikenal sebagai daerah yang relatif aman dan kondusif dibandingkan kota-kota besar lainnya. Bahkan ketika situasi politik memanas, kondisi keamanan di Kudus dinilai tetap terkendali. Karena itu, kemunculan aksi gangster remaja dianggap sebagai alarm serius bagi semua pihak.
Ia menilai langkah penegakan hukum oleh aparat kepolisian memang penting untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Namun, menurutnya, penyelesaian persoalan tawuran remaja tidak cukup jika hanya mengandalkan pendekatan hukuman.
Kholid juga menolak jika solusi yang diambil hanya berupa pelatihan militer bagi remaja yang terlibat tawuran. Menurutnya, pendekatan tersebut tidak menyentuh akar persoalan yang sebenarnya.
“Jangan langsung bicara soal hukuman. Saya pribadi kurang sepakat kalau penyelesaiannya hanya lewat pelatihan militer,” tegasnya.
Sebagai tindak lanjut, pihaknya mengusulkan agar persoalan gangster remaja dibahas secara khusus dalam rapat Komisi D bersama pimpinan DPRD Kudus. Pembahasan lintas sektor dinilai penting untuk merumuskan langkah bersama antara pemerintah daerah, sekolah, aparat keamanan dan para orang tua.
Selain itu, DPRD juga mendorong adanya penguatan pendidikan karakter di sekolah, pembinaan remaja secara berkelanjutan, hingga penyediaan ruang kreatif bagi anak muda agar mereka memiliki wadah positif untuk menyalurkan energi dan bakat.
Belakangan ini, fenomena gangster remaja di Kudus memang semakin membuat masyarakat resah. Sejumlah video yang memperlihatkan kelompok remaja membawa senjata tajam, melakukan penggerudukan hingga aksi pengeroyokan viral di media sosial dan memicu kekhawatiran warga.
Kholid menilai persoalan tersebut muncul akibat berbagai faktor yang saling berkaitan. Dari sisi keluarga, banyak orang tua dinilai kurang memiliki waktu untuk mengawasi dan membangun komunikasi dengan anak karena kesibukan bekerja.
Akibat minimnya perhatian tersebut, sebagian remaja akhirnya mencari pengakuan di lingkungan pergaulan maupun kelompok tertentu yang berujung pada tindakan negatif.
Sementara itu, di lingkungan pendidikan, sekolah dinilai masih terlalu berfokus pada capaian akademik dan belum maksimal dalam pembinaan karakter maupun pendampingan psikologis siswa.
Di sisi lain, pemerintah juga dianggap perlu menghadirkan lebih banyak fasilitas dan kegiatan positif untuk remaja agar mereka tidak terjerumus dalam pergaulan yang salah.
Kholid menambahkan, pengaruh media sosial turut memperburuk situasi. Banyak remaja sengaja merekam dan menyebarkan aksi tawuran demi mendapatkan perhatian serta pengakuan di dunia maya.
Ia menegaskan penanganan persoalan gangster remaja harus menjadi tanggung jawab bersama.
Orang tua diminta lebih aktif membangun komunikasi dengan anak, sekolah memperkuat pendidikan karakter, sedangkan pemerintah diharapkan menyediakan ruang pembinaan yang sehat bagi generasi muda.
“Kalau dibiarkan terus, ini bisa berkembang menjadi budaya kekerasan yang merusak masa depan anak-anak muda kita,” tutupnya. (J02/A01)










