Jurnalpantura.id, Kudus – Geliat kehidupan malam di pelataran Pasar Bitingan Kudus mulai terasa sejak pukul 22.00 WIB. Saat sebagian orang terlelap, para pedagang sayur memilih untuk terjaga, bertahan melawan dinginnya angin malam.
Mereka menggelar lapak dagangan dan suasana ini menciptakan pemandangan unik. Kesibukan malam mengubah pelataran pasar menjadi pusat aktivitas perekonomian yang semarak dan banyak digantungkan oleh masyarakat.
Saat malam semakin larut, dan puluhan truk serta pick up pedagang mulai berdatangan. Kendaraan-kendaraan ini, penuh muatan buah dan sayuran segar dari berbagai kota sekitar Kudus, seperti Jepara, Pati, Demak, Semarang, hingga Grobogan.
Kedatangan truk muatan buah dan sayur ini menjadi tanda bahwa pasar akan segera ramai. Kuli angkut terlihat gesit menurunkan barang-barang dan memanggulnya ke lokasi lapak. Untuk nantinya, dijual untuk warga nantinya berdatangan.
Di beberapa sudut pelataran pasar, pedagang tampak sibuk menakar dagangan mereka dalam kantong plastik berkapasitas 5 kilogram (kg). Setiap kantong yang sudah ditakar rapi kemudian ditata di bagian depan lapak.

Sementara itu, puluhan pembeli mulai berdatangan, memicu aksi tawar menawar yang tak terhindarkan. Suara hiruk pikuk dari transaksi ini berhasil memecah keheningan malam yang sepi dan tercipta kesan ciri khas dari pasar sayur malam ini.
“Ayo bu, kol, wortel, sawine murah-murah,” teriak salah satu penjual sayur, menambah semarak pasar yang berada di Desa Ploso, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus itu.
Tanpa disadari, fajar telah tiba. Memasuki pukul 04.30 WIB, ratusan pembeli berbondong-bondong menyerbu Pasar Bitingan. Ruas-ruas jalan di pelataran pasar dipenuhi pembeli, yang terkadang menimbulkan kemacetan di beberapa titik.
Tak berselang lama, pagi tiba pukul 06.00 WIB. Saat inilah suara speaker di sudut pasar mulai menginstruksikan kepada para pedagang untuk segera mengemas dagangan mereka, suasana mulai berubah.
Beberapa pedagang mulai mengemas barang dagangan, sementara yang lain masih terlibat dalam transaksi.
Dengan berjalannya waktu, pukul 08.00 WIB menandai akhir aktivitas malam para pedagang.
Sudut-sudut pasar yang sebelumnya dipenuhi dengan aktivitas kini mulai bersih setelah petugas kebersihan pasar menyebar untuk membersihkan sisa-sisa sampah dan sayur yang berserakan.
Kebersihan pasar menjadi prioritas untuk menyambut aktivitas jual beli berikutnya.

Pasar Sayur Malam kini menjadi tempat penting bagi banyak pedagang dan warga yang bergantung pada kehidupan malam. Seperti Pak Rasyid, yang setiap malam berkeliling menjual sayuran.
Ia tiap malam menggantung sayur-sayuran dari pasar Bitingan untuk dijual kembali dengan cara keliling kampung. Ia berangkat dari rumah sekitar jam 21.30 WIB dan kembali setelah belanja sayuran sekitar pukul 23.00 WIB.
“Setiap hari kulakan (membeli untuk dijual lagi) dari sini, untuk di jual keliling ke kampung-kampung,” katanya.
Kemudian, Farid, pemuda yang mengelola warung nasi di lampu merah Pasar Bitingan, juga mengaku bergantung hidup dari aktivitas Pasar Sayur Malam.
Tak hanya melayani para pedagang dan pembeli sayuran, ada juga tukang ojek, tukang becak dan juga warga yang ingin menikmati makan malam ataupun sekedar ngopi.
“Buka warung mulai pukul 21.00 hingga 03.00 dini hari, Alhamdulillah ramai,” tuturnya.
Penjabat Bupati (Pj) Bupati Kudus, Dr. M. Hasan Chabibie menyampaikan bahwa geliat perekonomian di Pasar Sayur Malam menjadi salah satu penopang kehidupan warga, dan perlu untuk mendapatkan perhatian khusus dari pemda.
“Di Pasar tersebut menjual berbagai macam sayur, buah dan ikan segar dari berbagai daerah di eks-karesidenan Pati, yang tentunya dibutuhkan oleh masyarakat untuk konsumsi sehari-hari,” katanya, Rabu, 23 Oktober 2024.
Terlebih lagi, banyak dari para pedagang sayur di Kudus, yang keliling kampung atau berjualan di rumah, mengambil dan membeli dagangan dari Pasar Sayur Malam itu. Sehingga, perannya begitu penting.
“Keberadaan Pasar Sayur Malam juga harus dibarengi dengan ketertiban dan kebersihan, agar aktivitas lain tidak terganggu dan lingkungan tetap terjaga keasriannya,” tambahnya.

Penjabat Bupati Kudus Dr. M. Hasan Chabibie sering berkunjung ke pasar-pasar yang buka tengah malam. Berpakaian baju berjaket, memakai sarung dan seringkali berkopyah, Hasan Chabibie menyapa pedagang dan berbagi rokok dengan tukang becak. Seringkali tanpa pengawalan dari protokol, hanya ditemani supir atau ajudan, itupun dari jarak jauh.
“Saya ingin merasakan denyut nadi kehidupan warga Kudus, yang berjuang dan bekerja di tengah malam. Saya hanya ingin menyapa, ngobrol dengan mereka, berbagi rokok, tanpa atribut formal. Saya mendoakan keberkahan rezeki kepada mereka semua, dan saya juga minta doa,” ungkap Hasan kepada media ini. Hasan Chabibie ingin bercengkerama dengan warga Kudus tanpa sekat, sesuatu yang sebelumnya sering ia lakukan semenjak menjadi aktivis organisasi.
Pasar-pasar di Kudus terus menggeliat. Pasar Bitingan dulunya menempati area sekitar Tugu Identitas. Waktu itu bahu jalan dari Tugu Identitas dibangun kios-kios pedagang. Di area Tugu Identitas juga dijadikan sebagai area berjualan sayur, buah dan lauk-pauk.
Saat itu, namanya Pasar Anyar. Karena jumlah penjual yang terus membeludak, lalu Pasar tersebut dipindahkan ke barat. Waktu itu sebelah barat Pasar Bitingan merupakan Stadion Kudus, sebelum akhirnya dipindahkan ke Wergu Wetan.
Nama Bitingan diambil lantaran pada waktu itu, di daerah tersebut banyak masyarakat yang membuat biting atau bambu yang dilancipi.
Pasar Bitingan tidak hanya sekadar tempat jual beli, tetapi juga menjadi pusat interaksi sosial yang menghidupkan malam di Kudus. Dengan ribuan pembeli dan pedagang yang aktif, pasar ini terus berkontribusi pada ekonomi lokal serta kehidupan masyarakat sekitarnya. (J05/A01)










