Mahasiswa Adakan FGD dengan Pengelola Rumah Inspirasi di Kudus

mahasiswa644 Dilihat

Jurnalpantura.id, Kudus – Pada tanggal 10 Juni 2024 sekitar pukul 18.30 WIB, seorang mahasiswa bernama Achmad Saefudin mengadakan Focus Group Discussion (FGD) dengan Rita, pengelola sekaligus pencetus Rumah Inspirasi yang terletak di Desa Tumpangkrasak, Kudus, Jawa Tengah.

Awalnya, Achmad hanya berniat melakukan wawancara untuk mengetahui program pemberdayaan masyarakat di Rumah Inspirasi tersebut. Namun, Rita dengan baik hati menjelaskan secara detail mulai dari awal pendirian hingga berbagai tantangan yang dihadapinya.

Rita menegaskan bahwa di sebuah desa, lebih baik membangun inklusi sosial dengan memiliki perpustakaan di berbagai desa tersebut untuk meningkatkan literasi masyarakat. Rita menyadari bahwa membangun semangat pemberdayaan masyarakat melalui inklusi sosial ini tidak mudah, namun bisa diusahakan. Ia sering mendapati penolakan saat mengajak warga untuk belajar atau terlibat dalam kegiatan di Rumah Inspirasi.

“Saya pernah disebut orang aneh saat orang lain melihat saya mengelola Rumah Inspirasi ini, padahal tidak ada honor dan sangat sulit menggerakkan masyarakat untuk ikut terlibat,” ucapnya.

Di awal, beberapa masyarakat mau bergabung, tetapi perlahan banyak yang mengundurkan diri karena tidak ada bayaran untuk mengelola perpustakaan tersebut. Namun, dengan dukungan dari kepala desa setempat, Rita tidak mau menyerah. Ia tetap memperjuangkannya sendiri dan yakin bahwa nantinya perpustakaan ini akan menjadi hebat.

Setelah perpustakaan tersebut diresmikan oleh kepala desa dan pihak dinas terkait, perpustakaan Desa Tumpangkrasak bersama perpustakaan Desa Loram Wetan, Janggalan, Jati Kulon, dan Gulang dinyatakan lolos verifikasi dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas).

Pada satu kesempatan, saat Bu Rita menjadi narasumber, perpustakaan ini menang dan mendapat penghargaan nasional, serta masih banyak penghargaan lainnya hingga sekarang. Hal ini menunjukkan bahwa mimpi Rita untuk menjadikan perpustakaan tersebut sukses telah tercapai.

Saat ini, perpustakaan tersebut sedang membimbing tiga anak berkebutuhan khusus. Mereka diajari meningkatkan keterampilan dengan membuat keset dari kain perca. Meskipun ada salah satu anak yang sulit diajak bekerja sama dan kadang tiba-tiba kabur, Rita tetap sabar dalam menghadapinya. Hasil dari pembuatan keset oleh anak-anak berkebutuhan khusus ini akan dijual ke masyarakat sekitar.

Namun, masyarakat terkadang kurang merespon, sehingga Rita membawa keset hasil karya anak-anak tersebut ke perkumpulan PKK dan meminta ibu-ibu PKK untuk membelinya. Nantinya, hasil penjualan tersebut, yaitu Rp 10.000, diberikan kepada anak-anak tersebut, sedangkan sisanya Rp 5.000 digunakan untuk membeli kain perca sebagai modal.

Perpustakaan ini tidak hanya digunakan untuk anak-anak, tetapi juga sering digunakan untuk menonton bareng (nobar) para remaja. Perpustakaan ini sudah difasilitasi dengan TV Smart, tiga komputer, banyak buku, beberapa lemari, wifi, dan lain-lain.

Rita berharap masyarakat sekitar yang pandai IT dapat mengajarkan keterampilan tersebut kepada anak-anak remaja generasi mendatang, karena mereka adalah generasi penerus. Namun, ada beberapa masyarakat yang tidak merespon karena kegiatan ini tidak memberikan honor.

Bu Rita berharap agar masyarakat sekarang lebih memanfaatkan apa yang sudah ada, jangan membiarkan begitu saja, dan lebih peduli dengan hal-hal di sekitar, meskipun itu hal kecil. (J05/A01)

Komentar