Jurnalpantura.id, Kudus – Penguatan pendidikan mitigasi bencana, kepekaan generasi muda terhadap sekitarnya bisa ditularkan melalui pendekatan berbasis budaya. Hal ini bisa dilakukan bila ada komunikasi aktif antar pemangku kebijakan.
Hal itu yang kemudian mendasari hadirnya acara Riset Folklore Muria Diskusi Tapangeli di Kampung Budaya Piji Wetan Kudus, yang digelar pada Sabtu (21/01/23) malam kemarin. Diskusi kali ini bertemakan “Rasan, Reksa, Resan.”
Camat Jekulo Agus Susanto menyampaikan, banyak perubahan sosial masyarakat yang menyebabkan perubahan perilaku masyarakat. Sehingga masyarakat lupa untuk hidup berdampingan dengan alam.
“Peradaban Muria dulu itu maju, banyak sumber daya yang perlu dijaga, bahkan sampai terkenal ke Eropa. Pendekatan struktural dan kultural ini penting untuk mengembalikan kondisi muria seperti semula,” katanya.
Seperti bencana alam yang seringkali terjadi di Kudus itu karena komunikasi antar pemangku kebijakan belum klik.
“Kita bicara gara-gara kerusakan hutan di Pemda, lalu sudah menemu solusi misalnya, itu kalau tidak ada orang Perhutani tetap akan sia-sia. Begitu juga banjir, karena semua sungai yang ada itu kewenangannya pada pemerintah pusat,” katanya.
Selanjutnya, Direktur Muria Research Center Indonesia, Mochamad Widjanarko mengamati daerah-daerah di Kabupaten Kudus yang rawan bencana alam. Oleh karena itu, pihaknya mendorong kepada masyarakat setempat untuk menumbuhkan kesadaran mitigasi bencana berbasis kearifan lokal.
“Yang menarik di sini, masyarakat sudah punya kapasitas untuk mengatasi bencana dengan kearifan lokal, seperti tradisi barikan, sedekah bumi, ini bisa jadi defense mekanisme masyarakat,” kata dia.
Di lain sisi, penulis dan pemerhati lingkungan Fawaz Al-Batawi menilai masyarakatlah yang pertama tahu ketika terjadi tanda-tanda mau ada bencana atau tanda kerusakan alam. Makanya, masyarakat ini disebut ujung tombak.
“Peran utama menjaga lingkungan ada di tangan masyarakat sekitar secara langsung. Pihak LSM, komunitas, CSR hanya bisa membantu dan mendorong,” ungkap penulis buku Seandainya Aku Bisa Menanam Angin itu.
Fawaz kemudian menawarkan tiga upaya yang bisa dilakukan untuk menciptakan kesejahteraan bersama dan seimbang. Tiga faktor tersebut, kata Fawaz, diantaranya ialah usaha, tani, dan lestari. (J05/A01)










