DEPROK Atau Politik Uang Merusak Tatanan Demokrasi

Politik254 Dilihat

Jurnalpantura.Com, Kudus – Budaya transaksional yang terjadi di masyarakat belakangan ini semakin mengkhawatirkan. Dengan istilah DEPROK (Gede Keprok) yang berarti mana yang memberi uang dengan jumlah besar itulah yang dipilih saat pemilihan.
Hal tersebut disampaikan Ketua DPD Partai Perindo Kabupaten Kudus Noor Hartoyo saat menyampaikan pidato politik dihadapan tim pemenangan “Saguyup Saeko Proyo” di Center Harjuna Jln Musium kretek turut Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati Kabupaten Kudus.

Kepada tim pemenangan, Noor Hartoyo yang juga Bakal Calon Bupati dari jalur Perseorangan menyampaikan pentingnya membangun kebersamaan dan selalu mengingat bahwa tujuan kita berjuang bukan semata – mata hanya meraih kemenangan, tapi kita berjuang membangun peradaban dan kesejahteraan yang adil bagi masyarakat.

“Harus kita mulai dari diri sendiri untuk melakukan perubahan, dengan tidak melakukan kampanye hitam dan politik Uang ” tegasnya dihadapan tim pemenangan Harjuna, Ahad 21/01/2018.

Kalau semua dinilai dengan uang maka pemimpin yang dihasilkan akan lupa dengan Rakyat karena sibuk mengembalikan modal saat pencalonan.

Jangan sampai demokrasi itu rusak karena ambisi yang menghalalkan segala cara. Karena budaya transaksional merusak demokrasi dan tata nilai masyarakat, kehidupan berbangsa dan bernegara, jangan sampai demokrasi justru menghasilkan kesenjangan baru, untuk itu kepada para kordes, tim perekrutan dukungan dan simpatisan yang hadir untuk selalu bertekad dan menguatkan keyakinan pentingnya membangun kesadaran masyarakat untuk perbaikan,lanjut Hartoyo. (J02)

Komentar