Jurnalpantura.id, Kudus – Dampak bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Kudus sejak Jum’at 09/01/2026 mulai berangsur membaik.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus per Ahad 25/01/2026 pukul 17.00 WIB, kondisi di sebagian besar wilayah terdampak kini telah menunjukkan penurunan signifikan.
Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Kabupaten Kudus, Eko Hari Jatmiko, menjelaskan bahwa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang terjadi beberapa hari terakhir menyebabkan peningkatan debit air sungai akibat kiriman dari wilayah hulu.
“Curah hujan tinggi mengakibatkan banjir, tanah longsor, serta cuaca ekstrem di sejumlah kecamatan. Air sempat meluap hingga menggenangi permukiman warga, lahan pertanian, dan akses jalan dengan ketinggian antara 20 sampai 50 sentimeter,” ujar Eko.
Pada kondisi awal, bencana hidrometeorologi berdampak pada 9 kecamatan dan 66 desa/kelurahan. Jumlah warga terdampak tercatat mencapai 70.610 jiwa dari 22.524 kepala keluarga (KK). Seiring berjalannya waktu dan surutnya genangan, kondisi saat ini menyisakan dampak di 3 kecamatan dan 8 desa/kelurahan, dengan total 7.164 jiwa dari 2.264 KK.
Terkait pengungsian, Eko menyampaikan bahwa jumlah warga yang harus mengungsi mengalami penurunan sangat drastis. Pada masa puncak bencana, total pengungsi mencapai 2.467 jiwa.
Namun hingga pembaruan terakhir, jumlah tersebut menyusut menjadi 11 jiwa dari 4 KK yang masih bertahan di lokasi pengungsian karena kondisi rumah belum sepenuhnya memungkinkan untuk ditempati kembali.
“Sebagian besar warga sudah kembali ke rumah masing-masing setelah genangan surut dan situasi dinyatakan aman,” jelasnya.
Dari sisi kerusakan fisik, BPBD mencatat pada kondisi awal terdapat 10.081 rumah yang terdampak banjir. Saat ini jumlah tersebut berkurang menjadi 2.057 rumah. Sementara itu, luasan sawah yang sebelumnya tergenang mencapai 4.020 hektare, kini tersisa sekitar 2.703 hektare.
Selain permukiman dan lahan pertanian, dampak bencana juga sempat mengenai fasilitas umum. Fasilitas ibadah yang terdampak awalnya tercatat sebanyak 11 lokasi, kini tinggal 4 lokasi. Sedangkan fasilitas pendidikan menurun dari 75 menjadi 14 lokasi.
Untuk kejadian tanah longsor, BPBD mencatat total 135 titik longsor pada awal kejadian. Namun seluruhnya telah tertangani dan saat ini tidak ada lagi titik longsor aktif. Demikian pula dampak cuaca ekstrem seperti pohon tumbang dan kerusakan kendaraan telah dinyatakan selesai penanganannya.
Seiring membaiknya kondisi, seluruh 23 dapur umum yang sebelumnya beroperasi di berbagai desa kini telah dihentikan operasionalnya.
“Kami tetap melakukan pemantauan dan siaga di lapangan mengingat potensi hujan masih bisa terjadi. Masyarakat kami imbau tetap waspada, khususnya yang tinggal di wilayah rawan banjir dan longsor,” pungkas Eko Hari Jatmiko. (J02/A01)










