Jurnalpantura.id, Kudus – Warga Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus dikejutkan dengan insiden meninggalnya orang tua saat membeli lauk di sebuah warung makan, Jum’at 08/08/2025 siang.
Korban diketahui bernama Wartono alias Bagong (68), seorang tukang becak yang sehari-hari tinggal di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kudus, bersama istrinya. Berdasarkan data identitasnya, ia beralamat di Desa Jepang Pakis RT 04 RW 04, Kecamatan Jati.
Menurut keterangan Sugiarti (49), pemilik warung makan yang menjadi lokasi kejadian, saat itu sekitar pukul 13.30 WIB korban datang bersama istrinya menggunakan becak. Korban yang masih duduk di atas sadel becaknya, memesan empat bungkus botok untuk dibawa pulang.
“Biasanya Pak Bagong itu makan langsung di sini. Tapi tadi siang cuma minta dibungkus. Kata istrinya, beliau sudah makan di rumah,” ujar Sugiarti.
Sebelum kejadian, korban bahkan masih sempat bercanda seperti kebiasaannya. Namun tak lama setelah memesan makanan, tiba-tiba tubuhnya kejang dan jatuh dari becak.
“Waktu itu beliau masih duduk di sadel. Tiba-tiba kejang dan jatuh dengan posisi kepala di bawah becak dan salah satu kakinya masih tergantung di sadel. Warga yang melihat langsung membantu,” jelasnya.
Melihat kejadian tersebut, Sugiarti bersama adik iparnya, Kuyun Nurkhasanah (42), segera melaporkan peristiwa itu ke Kepala Desa Megawon, Nurasag. Informasi selanjutnya diteruskan ke Bhabinkamtibmas dan Babinsa, hingga akhirnya laporan masuk ke Polsek Jati.
Kapolsek Jati AKP Hadi Noor Cahyo membenarkan kejadian tersebut. Ia menyebutkan, kejadian berlangsung sekitar pukul 13.45 WIB di warung milik Sugiyanti di Desa Megawon RT 06 RW 01, Kecamatan Jati.
“Korban datang bersama istrinya dengan mengendarai becak. Saat sedang memesan lauk, tiba-tiba korban terjatuh dan mengalami kejang. Warga langsung melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian,” ungkap AKP Hadi Noor Cahyo.
Petugas dari Polsek Jati, bersama tim Inafis Polres Kudus dan tenaga medis dari Puskesmas Ngembal, langsung mendatangi lokasi untuk melakukan pemeriksaan. Pemeriksaan dilakukan oleh dr. Puspitasari dan bidan desa Cicik Mingcahyani, S.ST.Keb.
Dari hasil pemeriksaan, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan atau penganiayaan pada tubuh korban. Korban diperkirakan telah meninggal dunia kurang lebih dua jam sebelum pemeriksaan, yakni sekitar pukul 13.15 WIB.
Pihak keluarga korban menerima kematian Wartono sebagai takdir, dan menyatakan tidak bersedia dilakukan otopsi melalui surat pernyataan resmi. Jenazah pun langsung diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan.
Peristiwa ini menjadi perhatian warga sekitar, terutama karena terjadi di tempat umum dan berlangsung secara tiba-tiba. Meski begitu, suasana kembali kondusif setelah penanganan dari pihak berwenang. (J02/A01)










