Jurnalpantura.id, Kudus – Askab PSSI Kudus berencana menggulirkan kompetisi sepak bola putri secara berkelanjutan sebagai upaya memperkuat pembinaan usia dini.
Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan jam terbang pemain sekaligus melahirkan pesepak bola putri yang lebih siap bersaing di level yang lebih tinggi.
Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Askab PSSI Kudus, Taufan Hapsoro Putro, mengatakan pihaknya telah menerima banyak masukan dari guru olahraga maupun pelatih yang selama ini mendampingi tim di ajang MilkLife Soccer Challenge. Mereka berharap ada pertandingan rutin yang dapat menjadi sarana pembinaan di luar turnamen resmi.
“Beberapa guru dan pelatih mengusulkan adanya kompetisi yang digelar secara berkala. Dengan begitu anak-anak tidak hanya berlatih, tetapi juga memiliki kesempatan bertanding secara terus-menerus,” ujarnya saat konferensi pers di Sport Center Super Soccer Arena, Kudus, Senin (6/7/2026).
Menurut Taufan, konsep yang tengah disiapkan adalah kompetisi mingguan yang melibatkan tim-tim sekolah dasar kelompok usia 10 hingga 11 tahun.
Pertandingan akan diputar secara bergiliran sehingga para pemain memperoleh pengalaman bermain yang lebih banyak sebelum tampil pada ajang yang lebih besar.
Ia menegaskan, Askab PSSI Kudus akan mengambil peran sebagai fasilitator penyelenggaraan kompetisi. Sementara itu, peserta berasal dari sekolah-sekolah yang telah memiliki siswi aktif dalam pembinaan sepak bola putri.
“Operatornya nanti dari Askab, sedangkan tim peserta berasal dari sekolah-sekolah. Kami ingin pembinaan tidak berhenti pada satu turnamen saja, tetapi berjalan secara berkesinambungan,” katanya.
Taufan menilai ekosistem sepak bola putri di Kudus menunjukkan perkembangan yang cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir. Kehadiran HYDROPLUS Soccer League dan MilkLife Soccer Challenge telah mendorong semakin banyak sekolah maupun sekolah sepak bola untuk membuka pembinaan bagi atlet putri.
Ia menjelaskan, HYDROPLUS Soccer League yang telah digelar selama tiga tahun di Kudus memberikan dampak nyata terhadap peningkatan jumlah pemain.
Bahkan, penyelenggaraannya lebih dahulu berlangsung dibandingkan di beberapa kota besar seperti Surabaya, Bandung, dan Jakarta.
“Perkembangannya sangat signifikan. Dulu sekolah sepak bola lebih banyak membina pemain putra, sekarang mulai banyak yang membuka kelas untuk pemain putri karena melihat peluangnya semakin besar,” jelasnya.
Pada pelaksanaan HYDROPLUS Soccer League terakhir, kompetisi diikuti 16 tim yang didominasi peserta asal Kudus. Selain itu, terdapat pula tim yang diperkuat pemain dari Kabupaten Pati dan Jepara, menandakan jangkauan pembinaan mulai meluas ke daerah sekitar.
Tak hanya itu, Askab PSSI Kudus juga mengapresiasi penampilan Scorpion FC yang sukses mengamankan tiga poin pada pertandingan perdana HYDROPLUS Soccer League All Stars 2025/2026.
Menurut Taufan, permainan yang ditunjukkan tim asal Kudus tersebut menjadi cerminan hasil pembinaan yang mulai menunjukkan perkembangan positif.
“Kami bangga karena Scorpion FC mampu tampil baik dan meraih kemenangan. Permainan mereka menunjukkan kualitas yang merata, sehingga menjadi motivasi bagi pembinaan sepak bola putri di Kudus untuk terus berkembang,” tuturnya.
Taufan menambahkan, keberhasilan Kudus membangun pembinaan sepak bola putri juga mendapat perhatian dari sejumlah pengurus PSSI di berbagai daerah.
Meski memiliki keterbatasan, Kudus dinilai mampu menghadirkan ekosistem pembinaan yang berkesinambungan melalui kolaborasi antara Askab PSSI Kudus, sekolah, sekolah sepak bola, serta dukungan Bakti Olahraga Djarum Foundation.
“Harapan kami, kompetisi yang berkelanjutan ini dapat menjadi fondasi untuk mencetak lebih banyak pesepak bola putri berkualitas yang nantinya mampu berprestasi di tingkat regional maupun nasional,” pungkasnya. (J02/A01)










