oleh

Pelaku Wisata Menjerit, Terpaksa Jual Motor Untuk Bertahan Hidup

Jurnalpantura.id, Kudus – Setahun Pandemi Covid-19 mengakibatkan beberapa sektor mengalami keterpurukan.

Apalagi usai diberlakukanya PPKM Darurat,
dengan pembatasan masyarakat lebih ketat.

Sektor Pariwisata menjadi salah satu sektor yang terdampak dan sejak mulai pandemi telah dilakukan penutupan beberapa objek wisata.

Otomatis, wisatawan pun tak ada yang datang berkunjung di tempat – tempat wisata.

Seperti beberapa kawasan Wisata di lereng Pegunungan Muria, banyak masyarakat yang menggantungkan hidup dari wisatawan yang datang.

Ada yang sebagai pengelola wisata, pedagang, hingga tukang ojek hingga karyawan ditempat wisata (pelaku wisata).

Alhasil banyak pelaku wisata di Kudus yang menjual sejumlah aset barang-barang berharga demi kelangsungan hidup.

Salah satunya dirasakan Abdul Rohman warga Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus yang keseharian ya sebagai tukang ojek wisata dan memiliki usaha kedai kopi tersebut.

“Motor Jupiter MX New yang biasanya buat aktifitas sehari-hari untuk ngojek saya jual, laku Rp 8,5 juta karena corona itu. Tabungan juga sudah habis, bisa bertahan buat makan saja sekarang ini sudah Alhamdulillah,” katanya.

Perpanjangan PPKM yang terus diperpanjang, lanjut dia, menjadi salah satu faktor para pelaku wisata tidak bisa menentukan arah atau antisipasi dengan kebijakan yang tidak pasti kapan selesainya. Apalagi, masyarakat Desa Colo, 80 persennya mayoritas bergantung pada perekonomian disektor wisata.

“Saumpama PPKM nya itu jelas waktunya itu kami bisa menentukan sikap dan arah, selama diberlakukan mau kerjakan apa itu bisa. Tapi ini, waktunya sudah mau selesai PPKM diperpanjang lagi, dan yang paling terasa memang saat PPKM Darurat ini, ” imbuhnya.

Pihaknya berharap sektor wisata bisa segera diperbolehkan beroprasi, agar perekonomian masyarakat bisa pulih kembali. Meski dengan sejumlah pembatasan dan protokol kesehatan yang ketat.

“Saya siap banget kalau dibuka dan harus ikut aturan. Misal pengunjung dibatasi 30 – 50 persen kami siap dan itu kami maksimalkan serta prokesnya ketat. Ini dampaknya bukan hanya saya, teman-teman yang lain juga banyak yang terdampak tidak bisa disebutkan satu persatu, “ucapnya.

Senada, pengelola Pijar Park, Desa Kajar, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus Yusuf juga mengaku sangat terdampak dengan adanya pandemi ini. Bahkan pihaknya juga menjual sebuah mobil honda jazz dan satu motor honda CRF miliknya untuk menutup biaya operasional dan pembayaran karyawan sementara.

Tak hanya itu, dari 15 orang karyawan yang bekerja di Pijar Park, delapan karyawan diantaranya dirumahkan sementara. Dan tujuh karyawan yang masih pun diutamakan memiliki tanggungan kredit motor atau kredit diperbankan, itupun digilir berangkatnya.

“Kami baru soflaunching 8 Maret 2021 lalu, dan ini harus tutup lagi hanya resto yang kami buka dan kami utamakan untuk take away. Untuk menutup cost operasional, beberapa pekan lalu saya jual motor CRF Rp 32 juta, dan pekan ini Jazz 2006 saya juga terjual Rp 75 juta,”jelasnya.

Kini, pihaknya pun berharap PPKM Darurat tidak diperpanjang di Kudus dan wisata pun diperbolehkan untuk buka, agar karyawan yang saat ini dirumahkan pun bisa kembali bekerja serta perekonomian pun bisa kembali normal.

“Apalagi Kudus kan memang awal yang terdampak dan ini sudah juga sudah termasuk oranye dan banyak desa yang sudah hijau. Misalkan dibuka untuk wisata dan resto 30 persen dan yang terpenting proses kami siap menjalankan itu, paling tidak bisa sedikitpulih, ” tandasnya. (J02/A01)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed