Jurnalpantura.id, Kudus – Hari Kartini yang diperingati pada Senin, 21 April 2025, disambut dengan penuh suka cita oleh masyarakat Kabupaten Kudus. Para perempuan di Kota Kretek menunjukkan beragam prestasi membanggakan yang turut diapresiasi oleh pemerintah daerah.
Salah satu sosok yang mencuri perhatian adalah Farikha Sukrotun Nikmah, seorang perempuan muda asal Kudus yang menekuni dunia olahraga sebagai wasit badminton. Ia tercatat sebagai satu-satunya wasit perempuan di cabang olahraga tersebut dari Kudus dan dianugerahi penghargaan sebagai Suara dan Aksi Perempuan Pelopor.
Farikha, demikian ia biasa disapa, berbagi cerita tentang perjalanan panjangnya menembus dunia wasit badminton, bidang yang selama ini kerap diasosiasikan sebagai dominasi laki-laki.
Perjalanan itu bermula pada tahun 2016, saat ia masih menjadi mahasiswa semester lima. Sang ayah, yang juga seorang wasit badminton, memberitahunya bahwa akan ada pelatihan wasit terbuka di Kudus.
“Awalnya saya kurang tertarik karena kebanyakan pesertanya laki-laki. Tapi akhirnya bapak memotivasi saya, mengatakan ini peluang emas. Saya pun merasa punya bekal cukup tentang badminton, jadi memberanikan diri untuk mendaftar,” kisahnya.

Walau hanya menggeluti badminton sebagai hobi, siapa sangka Farikha berhasil lolos seleksi tingkat Kabupaten Kudus. Tak berhenti di sana, ia melanjutkan ke tingkat Provinsi Jawa Tengah, lalu sukses pula melaju ke tingkat nasional.
“Di tingkat nasional, ada dua kategori, B dan A. Alhamdulillah saya bisa lolos keduanya. Setelah itu, saya mengikuti seleksi tingkat Asia,” ujar perempuan berusia 28 tahun ini.
Setelah mengantongi lisensi resmi, Farikha mulai meniti karier sebagai wasit di berbagai turnamen badminton, dari tingkat nasional hingga internasional. Ia pernah terlibat dalam ajang bergengsi seperti Indonesia International Challenge, Indonesia Super 100, hingga Super 500.
“Kalau untuk pertandingan di luar negeri, saya baru dua kali, di Cina yaitu pada Badminton Asia Appraisal 2024 dan Badminton Asian Championship 2025,” tambahnya.
Selama menjalani profesi ini, Farikha mengakui bahwa kelelahan dan pola tidur yang berantakan sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Namun, rasa bahagia tetap mendominasi karena banyak pengalaman dan jaringan pertemanan yang ia dapatkan.
“Bisa keliling Indonesia, kenalan dengan teman baru, saling bertukar budaya, bertemu pecinta badminton dan pemain kelas dunia—semuanya lebih banyak sukanya daripada dukanya,” tutupnya dengan senyum. (J05/A01)










