Jurnalpantura.id, Kudus – Gerobak kecil di tepi Jl Mayor Kusmanto atau utara Bumi Rendeng Baru (BRB) turut Desa Rendeng, Kecamatan Kota Kudus terlihat ramai di serbu pembeli.
Ismail atau yang akrab disapa Mail (8) sudah sebulanan ini berjualan bolang-baling di Jalan Mayor Kusmanto Kudus.
Kisah inspiratif bocah asal Desa Pedawang, Bae, Kudus membantu orang tua berjualan bolang-baling viral di sosial media.
Mail bersama kakaknya, Erlanga (i11) menjajakkan dagangan mereka. Jika dagangannya habis, biasanya Mail pulang ke rumah untuk kembali mengambil bolang-baling.
Jarak antara lokasi berjualan dengan rumah Mail cukup dekat, hanya sekitar 100 meter. Dengan menggunakan nampan plastik, bocah kelas 3 sekolah dasar ini membawa bolang-baling dari rumah ke lapak dengan berjalan kaki.
“Kalau dagangan di sini habis atau sisa sedikit, saya biasanya pulang untuk ambil dagangan lagi. Soalnya pembuatannya di rumah, tidak di sini (lapak). Makanya kalau habis harus bolak-balik ambil,” jelasnya saat ditemui sejumlah awak media, Selasa 29/12/2020.
Bolang-baling yang dijual Mail memiliki cita rasa yang enak dan bertekstur lembut. Harganya juga sangat terjangkau, yakni Rp. 1000 perbijinya. Tak ayal, jika dalam hitungan jam dagangan mereka laris manis diserbu pembeli.
Kendati baru duduk di kelas 3 Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Bae, Mail terlihat cukup cekatan dan sopan dalam melayani pembeli yang rata-rata meruapakan orang dewasa. Kemampuan matematikanya juga bagus, terlihat jelas dari caranya melayani orderan pembeli, mengenali nominal mata uang hingga memberikan kembalian.
Mail mengaku sudah sebulan ini membantu orang tuanya berjualan bolang-baling. Pekerjaan ini dengan senang hati dilakoninya untuk meringankan beban orang tuanya.
Dia merasa tidak tega melihat orang tuanya melakoni berbagai peran sekaligus. Mulai dari membuat dan menjual bolang-baling hingga mengasuh adiknya yang masih bayi. Hal inilah yang kemudian membuat mereka berbagi peran.
“Kalau pagi, bapak dan ibu saya buat bolang-baling di rumah. Dua adek perempuan saya menjaga dan mengajak bermaian adik saya yang masih bayi. Saya dan kakak, yang berjualan,” ungkap Mail menjelaskan pembagian tugas dalam keluarganya.
Walau awalnya sempat merasa malu berjualan bolang-baling di tepi jalan. Lama kelamaan, Mail tak lagi merasa begitu. Kini dia mengaku sudah terbiasa dengan aktivitas tersebut. Terlebih, aktivitas berjualan yang mereka lakoni memiliki tujuan mulia, membantu orang tua.
Disinggung mengenai aktivitas pembelajaran daring. Mail dan Erlangga kompak mengatakan jika aktivitas berjualan mereka tidak mengganggu waktu belajar.
“Kami berjualan dari pukul 05.30 WIB sampai 09.00 WIB. Kami belajarnya biasanya setelah berjualan. Jadi tidak mengganggu waktu belajar,” sahut Erlangga.
Namun, jika nanti pembelajaran tatap muka kembali dibuka. Erlangga dan Mail mengaku akan tetap berusaha membantu orang tuanya berjualan, tentu dengan intensitas yang berbeda.
“Kita bantuanya paling sebentar. Pas waktu sekolah, kita ya berangkat sekolah,” tegas Erlangga.
Terpisah, Dwi Hardi Azzam, 36 tahun, Ayah Mail. Dia mengatakan baru sebulanan ini berjualan bolang-baling. Sebelumnya, keluarganya mengandalkan penghasilan dari berjualan dawet di Jalan Diponegoro.
“Musim penghujan ini omset kami turun drastis. Lalu kami cari sumber panghasilan lain untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ya ini akhirnya jualan bolang-baling,” ujar pria ber-KTPkan Lampung tersebut.
Disinggung mengenai anak-anaknya yang membantu berjualan. Azzam mengaku hal tersebut dilakukan untuk mengajarkan anaknya akan pentingnya tolong menolong dan kerjasama dalam kehidupan. Sekaligus mengajarkan mereka cara berwirausaha.
“Mail di rumah anaknya memang paling peka dan suka membantu orang. Membantu kakaknya, adik-adiknya dan orang tuanya. Dia bantu kami berjualan, karena dia tahu betul kondisi orang tua dan keluarganya bagiamana,” tutur Azzam. (J12/A01)










