oleh

Gethuk Tiwul Cantik ada Varian Rasa dari Bulungcangkring

Jurnalpantura.id, Kudus – Gethuk Tiwul yang dibuat warga Bulungcangkring, Kecamatan Jekulo, Kudus, kini memiliki varian rasa.

Tidak hanya rasa gula mentah dan campuran kacang tolo, kuliner khas jawa milik Yohana Landri Astuti (54) ini juga memiliki barian rasa buah nangka dan coklat dari meses.

Mulanya, Yohana hanya membuat gethuk tiwul dengan varian rasa gula merah atau campuran kacang tolo. Baru setengah tahun berjalan, produk buatannya tersebut menarik banyak pelanggan di lingkungan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Kudus.

“Awal januari saya membuatnya, kemudian dibantu guru tari anak saya hingga bisa masuk ke lingkungan dinas-dinas,” ujar Yohanan yang juga merupakan seorang guru di SD 5 Bulungcangkring.

Setelah dirasa mendapatkan pasar yang menjanjikan, dia mencoba membuat varian buah nangka dan coklat meses. Hasilnya pun cukup memuaskan dan banyak dipesan oleh para pecinta olahan singkong ini.

“Tapi untuk sekarang memang masih banyak peminatnya untuk gethuk tiwul gula merah dan campuran kacang tolo,” imbuhnya.

Getuk produksi Yohana memiliki berbagai varian rasa (Foto:J14)

Yohana juga menceritakan, ide awal membuat bisnis kuliner gethuk tiwul ini, lantaran dia pernah menderita diabetes melitus. Kondisi yang membuatnya harus mengganti pola makan dari nasi ke olahan yang rendah kadar gula. Kemudian, memberikan inisiatif untuknya untuk membuat gethuk tiwul secara otodidak.

Setelah gethuk tiwul buatannya dirasa enak, Yohana mengaku iseng untuk memamerkannya di grup whatsapp sekolah. Ternyata, banyak yang tertarik mencoba mencicipi rasanya dan malahan berlanjut menjadi pelanggan.

“Kemarin, teman saya juga ada yang bawa sampai Jakarta,” tuturnya.

Menariknya, gethuk tiwul buatannya yang pernah masuk hingga ke Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, kata Yohana, mendapatkan respon dan saran yang baik.

“Kita dapat saran dari DKK itu soal kelapanya. Saat di lab itu sudah bagus, tapi kelapanya disarankan untuk dimasak dulu. Sebab, pas saya buat itu parutan kelapanya tidak dimasak dulu karena rasanya berbeda,” terangnya.

Menurut informasi yang didapatkan Yohana dari DKK Kudus, untuk meciptakan rasa yang sama antara parutan kelapa yang belum dimasak dan sudah dimasak tidak cukup rumit.

Dimana, untuk tidak menghilangkan rasa manis dari parutan kelapa saat masih mentah, adalah dengan memasak kelapa yang masih penuh atau yang masih ada airnya.

“Kalau untuk ketahanannya gethuk tiwul ini bisa sampai 3 hari kalau disimpan di mesin pendingin, tapi kalau mau dimakan harus dikukus lagi biar tidak alot,” tambahnya.

Selain gethuk tiwul varian rasa, Yohana juga membuat getuk gobet atau sawut yang tidak kalah diburu oleh pelanggan. (J14/A02)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed