Jurnalpantura.id, Kudus – Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata di Kabupaten Kudus hingga Agustus 2025 tercatat baru mencapai Rp 2,1 miliar atau sekitar 54,74 persen dari target sebesar Rp 3,8 miliar.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus, Mutrikah menyampaikan, rendahnya capaian PAD sektor pariwisata disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah adanya pembatasan kegiatan rekreasi sekolah.
Selain itu, munculnya berbagai destinasi wisata baru di daerah-daerah lain turut memengaruhi minat kunjungan ke Kabupaten Kudus yang belum optimal sepanjang tahun ini.
“Memang kalau kita lihat dari kunjungan, ada sekolah yang tidak boleh rekreasi. Lalu, tumbuh destinasi baru yang tidak hanya di Kudus tapi menyebar di seluruh daerah,” ujar Mutrikah.
Ia menambahkan, kondisi tersebut menyebabkan destinasi wisata di Kudus harus berkompetisi lebih ketat untuk menarik wisatawan.
Adapun PAD pariwisata yang terkumpul hingga Agustus 2025 berasal dari lima sumber pendapatan. Pendapatan terbesar berasal dari retribusi tempat rekreasi dan olahraga yang mencapai Rp 1,5 miliar.
Sementara itu, retribusi pemanfaatan daerah menyumbang Rp 205,4 juta, retribusi tempat khusus parkir Rp 194,5 juta, dan retribusi tempat penginapan atau vila juga sebesar Rp 194,5 juta.
Sumber pendapatan lainnya, yakni dari denda retribusi, hanya menyumbang Rp 568 ribu.
“PAD sektor pariwisata pada tahun ini sebesar Rp 3,8 miliar, sesuai dengan APBD Perubahan 2025,” tandasnya.
Untuk mencapai target tersebut, berbagai upaya terus dilakukan oleh pemerintah daerah melalui perbaikan fasilitas dan pelayanan di lokasi wisata.
Salah satu contoh peningkatan layanan tersebut adalah di Taman Krida Kudus, yang menjadi salah satu destinasi wisata andalan daerah.
Mutrikah menjelaskan, pihaknya melakukan berbagai pembenahan di taman tersebut, mulai dari perawatan pohon hingga perbaikan fasilitas penunjang kegiatan masyarakat.
Hal ini dilakukan guna meningkatkan minat kunjungan dan memberikan pengalaman yang lebih aman dan nyaman bagi pengunjung.
“Tingkat kunjungan semakin meningkat. Kadang masyarakat atau organisasi tertentu tidak kita tarik (retribusi), melihat kepentingannya seperti apa. Tapi kita berusaha agar Taman Krida dikunjungi dan menghasilkan PAD juga,” jelasnya.
Ia menambahkan, fasilitas untuk anak-anak, ruang pertemuan, hingga hall untuk kegiatan pernikahan juga terus dibenahi agar taman tersebut dapat dimanfaatkan oleh berbagai kalangan. (J05/A01)










