Jurnalpantura.id, Kudus – Selaras dengan program pemerintah menuju Indonesia Emas, salah satu yang harus dilakukan adalah mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas sedini mungkin.
Menyadari hal itu, guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kabupaten Kudus berupaya turut serta mempersiapkannya. Salah satu yang dilakukan adalah dengan mengikuti Progam AJARI (Aku Pembelajar Inkuiri).
Tujuannya, untuk mengembangkan kemampuan guru agar mampu menyiapkan generasi pembelajar yang aktif dan berkualitas, dengan menerapkan pendekatan pembelajaran berbasis bermain (play based learning) melalui budaya inkuiri.
Pada pendekatan ini, fokus siswa adalah menyelesaikan masalah dan kemampuan bersosialisasi. Siswa juga akan memiliki kemampuan belajar yang lebih kuat, serta perkembangan akademik dan daya tahan (relisiensi) di masa depan yang lebih baik.
Sedangkan pada pembelajaran drilling yang sebelumnya digunakan, fokus siswa dititik beratkan pada ‘calistung’ yaitu baca, tulis dan hitung.

Program ini adalah program rutin yang diinisiasi oleh Bakti Pendidikan Djarum Foundation yang bekerjasama dengan Pusat Belajar Guru, Kementerian Agama dan Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Kudus.
Hingga saat ini telah berjalan 4 batch Program AJARI yang dimulai sejak tahun 2017. Guru PAUD dilatih dan didampingi oleh fasilitator yang merupakan guru PAUD yang juga peserta AJARI pada tahap sebelumnya.
Sebanyak 20 fasilitator telah berhasil memberikan pelatihan dan pendampingan pada 105 guru PAUD di 10 sekolah mitra Djarum Foundation pada Program AJARI Batch 4 ini. Seremonial Penutupan pun dilakukan pada Selasa, 23/6/2026.
Bunda PAUD Kudus, Endhah Endhayani Sam’ani Intakoris yang turut menyaksikan kegiatan penutupan Program AJARI Batch 4, memberikan apresiasi yang tinggi terhadap program yang digagas oleh Bakti pendidikan Djarum Foundation.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat dan layak untuk diberikan dukungan karena guru-guru PAUD akan memberikan modal awal bagi generasi muda agar mampu bersaing di masa mendatang,” tutur Endhah di Djarum Oasis Kudus.
Menurutnya, program semacam ini dapat terus berkelanjutan. Sehingga, seluruh pendidik di Kabupaten Kudus, khususnya jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dapat mengikuti perkembangan zaman dan teknologi yang ada.
“Program ini sangat luar biasa, sangat bagus, harus terus berlanjut,” tandasnya.
Pihaknya berharap, proses pelatihan dan pendampingan ini diharapkan mampu meningkatkan kompetensi pendidik agar mampu mengajak para siswa melakukan kegiatan yang lebih eksploratif.
Kemudian, dapat mendorong siswa berpikir kritis dan kreatif serta meningkatkan kemampuan siswa untuk menyelesaikan masalah
“Harapan ke depan, semua bisa merata dan menyasar guru yang ada di Kabupaten Kudus. Semoga bisa tercapai semua, diaplikasikan ilmunya untuk metode pembelajaran sehari-hari,” harapnya.
Program AJARI Batch 4 ini telah berjalan sejak bulan Juni 2025, hampir satu tahun pelatihan dan pendampingan rupanya dapat memberikan dampak positif bagi siswa.
Misalnya saat ini siswa di PAUD menjadi lebih aktif dan komunikatif karena guru-guru telah dilatih dan didampingi untuk bisa memberikan dukungan yang tepat agar bisa menstimulasi siswa untuk mampu menceritakan sesuatu sesuai dengan imajinasi dan pemahaman siswa.
Hal ini dibenarkan oleh Anita Dian Arifah, selaku Kepala Sekolah TK Islam Miftahul Huda, beliau menyampaikan bahwa dengan mengikuti program AJARI, guru menjadi lebih kreatif, lebih memahami bagaimana menyiapkan pembelajaran yang menyenangkan dan tentunya kualitas pembelajaran juga meningkat.
“Sehingga siswa bisa lebih aktif, lebih sering bertanya, lebih mandiri dan lebih antusias untuk menghasilkan hasil karya,” katanya.
Sementara itu, menurut Galuh Paskamagma selaku Program Manager Bakti Pendidikan Djarum Foundation menyatakan bahwa transformasi dari pembelajaran drilling ke pendekatan pembelajaran berbasis bermain dapat tercapai dengan mudah dengan dukungan guru.
Namun dibutuhkan waktu tambahan karena harus merubah mindset bahwa siswa yang pandai tidak hanya siswa yang mampu ‘calistung’ di usia dini.
“Sekarang kalau lihat anak-anak PAUD sudah berbeda, sekarang mereka bisa lebih eksploratif, boleh milih yang mereka suka, dan guru hanya sebagai fasilitator atau pemantik saja agar anak bisa lebih eksploratif,” tuturnya.
Selama 9 tahun program ini berjalan, sebanyak 659 guru telah dilatih dan didampingi di 46 sekolah mitra dan berdampak pada 7.589 siswa PAUD di Kudus.
Nantinya akan semakin banyak guru dengan kompetensi terbaik dari Kudus yang siap untuk membantu menyiapkan generasi emas. (J05/A01)










