JurnalPantura.id, Kudus — Gelaran Festival Ekraf (Ekonomi Kreatif) 2025 Exhibition & Cultural resmi dibuka meriah pada Jumat, 13 Juni 2025, di halaman Balai Jagong Kudus.
Di hari pembukaan, sorotan publik langsung tertuju pada panggung seni yang menampilkan Tari Rahtawu, tarian kreasi penuh makna dari siswa-siswi SMP 1 Jati Kudus.
Tarian ini berhasil menyita perhatian para tamu penting dan ratusan warga yang hadir. Tampak hadir di antara penonton, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus Mutrikah, serta Ketua Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Kudus Valerie Yudistira Pramudya.
Lebih dari sekadar hiburan, Tari Rahtawu membawa pesan kuat tentang identitas dan kekayaan budaya dari salah satu desa paling ujung di Kabupaten Kudus yakni Desa Rahtawu.
Diciptakan pada tahun 2023 oleh Sanggar Seni Puring Sari, tari ini adalah bagian dari program pengembangan kesenian lokal yang digagas Dinas Pariwisata.
Tujuannya, setiap desa wisata di Kudus memiliki tarian khas sebagai bentuk sambutan dan representasi budaya setempat.
“Tari Rahtawu ini kami pilih karena ingin menampilkan sisi lain dari Rahtawu, bukan hanya alamnya yang indah, tapi juga budayanya yang kaya,” ujar pelatih tari, Tania Novadella, yang juga merupakan pendidik sekaligus pembina Sanggar Seni Puring Sari.
“Ini baru dua kali dipentaskan setelah sebelumnya pada even dandangan, dan ini kesempatan kami untuk memperkenalkannya lebih luas,” tambahnya.
Berbeda dari tari tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, Tari Rahtawu merupakan tari kreasi baru.
Gerakannya memadukan unsur tradisional dengan gaya kontemporer, mencerminkan semangat generasi muda yang terus ingin menjaga akar budaya namun tetap relevan dengan zaman.
Menurut Tania, gaya tari seperti inilah yang kini banyak diminati anak muda, terutama di kalangan pelajar.
“Mereka lebih suka tari kreasi, masih ada sentuhan etnik, tapi dikemas modern. Kalau tari klasik, biasanya kurang menarik minat mereka,” jelasnya.
Sanggar Seni Puring Sari sendiri menjadi rumah bagi sekitar 65 anggota aktif yang rutin berlatih tari klasik, kreasi, tradisional hingga genre modern seperti hip-hop dan tari kontemporer.
Tarian yang ditampilkan dalam Festival Ekraf kali ini dibawakan oleh para penari muda dari siswi SMP 1 Jati, hasil didikan dari sanggar tersebut.
Kepala Disbudpar Kudus, Mutrikah, mengapresiasi penuh penampilan Tari Rahtawu.
Ia menyebut tarian tersebut sebagai representasi sempurna dari filosofi Desa Rahtawu yang dikenal sebagai desa wisata berbasis alam dan budaya.
“Tari Rahtawu adalah bagian dari program kami yang mendorong setiap desa wisata punya tarian khas. Saat ini sudah ada enam tarian baru, dan ini menunjukkan bagaimana kesenian desa bisa tumbuh dari kreativitas lokal,” ujarnya.
Festival Ekraf 2025 akan berlangsung selama tiga hari ke depan, menampilkan berbagai potensi ekonomi kreatif dari Kabupaten Kudus.
Mulai dari pertunjukan seni, pemilihan duta wisata, musik, live cooking, peragaan busana, hingga berbagai hiburan rakyat semua menjadi bagian dari rangkaian acara yang dirancang untuk menggugah semangat kebudayaan dan inovasi Kota Kretek.
Penampilan Tari Rahtawu pada pembukaan festival kali ini bukan hanya mencerminkan estetika gerak, tetapi juga membawa semangat baru bahwa dari ujung Kudus, kreativitas bisa lahir dan menginspirasi seluruh daerah.










