Jurnalpantura.id, Kudus – Keberadaan sebuah makam pribadi di tengah permukiman warga Dukuh Muneng RT 5 RW 3, Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menuai keberatan dari masyarakat sekitar.
Makam tersebut merupakan tempat peristirahatan terakhir Musdiyono yang dimakamkan pada 1 Juli 2026.
Warga menilai lokasi pemakaman yang berada di lingkungan padat penduduk telah mengganggu kenyamanan.
Meski berada di atas lahan milik pribadi, masyarakat mengaku tidak pernah diajak berkomunikasi ataupun dimintai pendapat sebelum lahan tersebut digunakan sebagai lokasi pemakaman.
Salah seorang warga, Rochmat Hadi Santoso (33), mengatakan masyarakat terkejut karena pemakaman dilakukan tanpa adanya pemberitahuan terlebih dahulu kepada lingkungan sekitar.
Menurutnya, keputusan tersebut memicu keresahan di kalangan warga.
“Kami benar-benar kaget karena tiba-tiba lahan itu dijadikan makam. Sebelumnya tidak pernah ada pembicaraan dengan warga. Memang itu tanah pribadi, tetapi tetap harus mempertimbangkan lingkungan dan tetangga sekitar,” ujarnya, Senin (6/7/2026).
Rochmat mengungkapkan, saat warga meminta penjelasan kepada pihak keluarga, mereka mendapat informasi bahwa pemakaman dilakukan berdasarkan wasiat almarhum Musdiyono.
Selain dijadikan lokasi makam, lahan tersebut sebelumnya juga telah dibangun sebuah masjid oleh almarhum.
Menurutnya, Musdiyono bukan merupakan tokoh masyarakat ataupun sosok yang memiliki jabatan tertentu. Namun, karena memiliki lahan pribadi, keluarga memilih memenuhi wasiat tersebut dengan memakamkannya di lokasi itu.
“Padahal tidak jauh dari rumahnya sudah ada tempat pemakaman umum. Kami mempertanyakan kenapa harus dimakamkan di tengah permukiman yang padat penduduk seperti ini,” katanya.
Rochmat menambahkan, banyak warga berharap makam tersebut dapat dipindahkan ke tempat pemakaman umum.
Namun, sebagian masyarakat memilih tidak menyampaikan keberatan secara terbuka karena menganggap keluarga almarhum memiliki pengaruh di lingkungan setempat.
Keluhan serupa juga disampaikan warga lainnya, Ajeng Setiyaningsing. Ia mengaku keberadaan makam yang berada tepat di depan rumah membuat keluarganya, terutama anak-anak, merasa takut sehingga enggan beraktivitas di luar rumah.
“Begitu saya membuka pintu rumah, langsung menghadap makam. Anak saya jadi takut, bahkan kalau malam sering menangis. Saya pribadi tidak setuju jika makam berada di lokasi itu,” tegasnya.
Sebagai bentuk upaya mengurangi ketidaknyamanan, salah seorang warga memasang spanduk yang mengelilingi area makam sehingga keberadaannya tidak langsung terlihat dari lingkungan sekitar.
Warga berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui musyawarah dengan keluarga almarhum agar ditemukan solusi yang dapat diterima semua pihak. (J05/A01)










