Resmi Jadi WBTb, Tradisi Minta Hujan “Guyang Cekathak” di Kudus Masih Lestari hingga Sekarang

- Jurnalis

Jumat, 24 April 2026 - 14:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penyerahan sertifikat WBTb Guyang Cekathak dilakukan oleh Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Tengah, Dr Ir Hanung Triyono, kepada Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus, Teguh Riyanto. (Foto: Istimewa)

Penyerahan sertifikat WBTb Guyang Cekathak dilakukan oleh Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Tengah, Dr Ir Hanung Triyono, kepada Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus, Teguh Riyanto. (Foto: Istimewa)

Jurnalpantura.id, Kudus – Tradisi pemanggil hujan “Guyang Cekathak” di Kabupaten Kudus resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia.

Penetapan ini menjadi tonggak penting dalam upaya pelestarian budaya lokal yang sarat nilai sejarah dan spiritual bagi masyarakat setempat.

Penyerahan sertifikat WBTb Guyang Cekathak dilakukan oleh Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Tengah, Dr Ir Hanung Triyono, kepada Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus, Teguh Riyanto. Acara tersebut berlangsung pada Selasa malam, 21 April 2026, di Wujil Resort, Kabupaten Semarang.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus, Teguh Riyanto, menyampaikan bahwa pemerintah daerah memiliki tanggung jawab untuk memajukan kebudayaan agar tetap terjaga dan berkembang.

Menurutnya, pengakuan ini diharapkan dapat memperkuat identitas dan jati diri masyarakat Kudus.

“Harapan kami, dengan pencapaian ini akan semakin meningkatkan kepribadian dan jati diri bagi masyarakat Kudus,” ujar Teguh pada Jumat, 24/4/2026.

Ia juga menegaskan bahwa penghargaan ini merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah dalam menjaga warisan budaya untuk generasi mendatang.

Tradisi Guyang Cekathak sendiri memiliki keterkaitan erat dengan Sunan Muria. Tradisi ini telah ada sejak masa hidup beliau, ketika masyarakat mengandalkan peran Sunan Muria untuk memohon turunnya hujan saat musim kemarau melanda.

Baca Juga :  Tanpa Gebyar, Malam Sincia di Kelenteng Hok Hien Bio Kudus Akan Digelar Khidmat dengan Sembahyang Bersama

Awalnya, prosesi dilakukan dengan memandikan kuda milik Sunan Muria di mata air Sendang Rejoso. Namun, seiring berjalannya waktu dan kuda tersebut sudah tidak ada, tradisi kemudian beralih dengan menggunakan pelana atau tapak kuda sebagai simbol yang diyakini membawa keberkahan.

Secara etimologis, Guyang berarti memandikan, sedangkan Cekathak merujuk pada pelana atau tapak kuda peninggalan Sunan Muria.

Tradisi ini dilaksanakan oleh masyarakat Desa Colo sebagai bentuk ikhtiar spiritual untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diturunkan hujan, sekaligus mengenang perjuangan Sunan Muria dalam menyebarkan ajaran Islam.

Prosesi Guyang Cekathak diawali dengan pengambilan cekathak pada malam hari setelah salat Maghrib, dilanjutkan dengan pembacaan manaqib dan tahlil.

Keesokan harinya, masyarakat dan peziarah bersama-sama mengarak cekathak menuju Sendang Rejoso dengan iringan sholawat dan tabuhan Terbang Papat, sebelum akhirnya dimandikan dan airnya dipercikkan sebagai simbol harapan turunnya hujan.

Tradisi ini ditutup dengan doa bersama dan bancakan, di mana masyarakat menikmati hidangan yang dibawa masing-masing maupun yang disediakan oleh yayasan. Setelah prosesi selesai, cekathak dijemur di kompleks Makam Sunan Muria sebelum disimpan kembali.

Dengan penetapan sebagai WBTb, tradisi ini diharapkan terus lestari dan mampu mengedukasi generasi muda untuk lebih mengenal budaya daerahnya. (J05/A01)

Berita Terkait

Guyang Cekathak di Lereng Muria, Warga Colo Kudus Berdoa agar Hujan Segera Turun
Ampyang Maulid Loram Kulon, Tradisi Religi yang Menggerakkan Budaya dan Ekonomi Warga
Warga Kauman Kudus Jaga Tradisi Bubur Asyura Jelang 10 Muharram, Seribuan Porsi Dibagikan
12 Regu Tari Caping Kalo Melaju ke Final, Kudus Bersiap Pecahkan Rekor MURI
Bulusan 2026 di Kudus Tanpa Tiket, Warga Antusias Rayakan Tradisi Kupatan
Rebutan Berkah di Sewu Kupat Muria, Warga Padati Taman Ria Colo
Ada Makna Dibalik Kirab Kerbau Bule Sebelum Pesta Lomban Jepara
Festival Bulusan Kudus Hadirkan Gebrakan Baru, Tahun Ini Gratis Tanpa Tiket Masuk
Berita ini 43 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 13:35 WIB

Guyang Cekathak di Lereng Muria, Warga Colo Kudus Berdoa agar Hujan Segera Turun

Selasa, 25 Agustus 2026 - 17:57 WIB

Ampyang Maulid Loram Kulon, Tradisi Religi yang Menggerakkan Budaya dan Ekonomi Warga

Rabu, 24 Juni 2026 - 18:08 WIB

Warga Kauman Kudus Jaga Tradisi Bubur Asyura Jelang 10 Muharram, Seribuan Porsi Dibagikan

Jumat, 15 Mei 2026 - 15:01 WIB

12 Regu Tari Caping Kalo Melaju ke Final, Kudus Bersiap Pecahkan Rekor MURI

Jumat, 24 April 2026 - 14:59 WIB

Resmi Jadi WBTb, Tradisi Minta Hujan “Guyang Cekathak” di Kudus Masih Lestari hingga Sekarang

Berita Terbaru