Jurnalpantura.id, Kudus – Tradisi Ampyang Maulid kembali semarak di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Selasa, 25/8/2026, bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Sebanyak 43 peserta ambil bagian dalam Festival Ampyang Maulid tahun ini. Peserta berasal dari berbagai lembaga pendidikan, musala, dan masjid di Desa Loram Kulon serta Loram Wetan.
Dengan membawa tandu berisi aneka kreasi ampyang, peserta mengikuti kirab dari kawasan Alfamidi Loram Kulon menuju Masjid Wali At-Taqwa Loram Kulon.
Kepala Desa Loram Kulon, Wahyu Saputra, menyebut antusiasme masyarakat terhadap tradisi tersebut terus menunjukkan peningkatan. Hal itu terlihat dari bertambahnya peserta sekaligus warga yang datang menyaksikan jalannya festival.
“Alhamdulillah untuk peserta Festival Ampyang Maulid tahun 2026 berjumlah 43 peserta. Terdiri dari lembaga pendidikan, musala, dan masjid dari Loram Kulon maupun Loram Wetan,” kata Wahyu.
Menurut Wahyu, Ampyang Maulid bukan sekadar agenda tahunan. Tradisi tersebut menjadi bagian dari perjalanan masyarakat Loram yang diwariskan sejak zaman Sultan Hadirin dan tetap dipertahankan meski wilayah Loram kini terbagi menjadi dua desa.
Perkembangan kreativitas juga terlihat dari beragam bentuk tandu ampyang yang dibuat peserta. Di sisi lain, kegiatan tersebut dinilai mampu memperkuat semangat gotong royong warga.
“Yang kita inginkan tentunya masyarakat bisa meneladani akhlakul karimah Nabi Muhammad SAW. Melalui kegiatan ini, kami berharap masyarakat Loram Kulon, Loram Wetan dan seluruh yang menyaksikan bisa mengambil nilai-nilai keteladanan beliau,” ujarnya.
Selain kirab ampyang, keberadaan nasi kepel menjadi salah satu ciri khas yang tidak terpisahkan dari tradisi masyarakat Loram.
Nasi kepel merupakan nasi sedekah yang dibawa warga ke masjid sebagai bentuk syukuran atas hajat tertentu. Hajat tersebut dapat berupa ulang tahun, weton, maupun keinginan lain yang hendak disyukuri.
Makanan tersebut selanjutnya dibagikan kepada jamaah masjid dan musafir. Isi nasi kepel pun beragam, mulai nasi dengan lauk tahu hingga daging, telur, dan ayam.
Pada pelaksanaan tahun ini, masyarakat menyediakan lebih dari 500 bungkus nasi kepel untuk dibagikan di Masjid Wali At-Taqwa. Nasi kepel mulai dikirim warga sejak pagi hingga siang hari.
Menariknya, jumlah nasi kepel yang dibawa umumnya menggunakan hitungan ganjil, seperti lima, tujuh, atau sembilan bungkus. Kebiasaan tersebut memiliki filosofi tersendiri bagi masyarakat setempat.
Wahyu menjelaskan, salah satu makna yang melekat pada jumlah tersebut adalah angka tujuh yang dikaitkan dengan istilah “pitulungan” atau pertolongan. Filosofi itu menjadi bagian dari harapan dan doa warga agar sedekah yang diberikan membawa keberkahan.
Sementara itu, Anggota Komisi XI DPR RI, Musthofa, menilai kelestarian Ampyang Maulid perlu terus dijaga. Namun, menurutnya, masyarakat dan generasi muda perlu memahami makna di balik tradisi tersebut, bukan hanya menikmati kemeriahannya.
“Generasi muda yang akan datang tentu tidak hanya sekadar melihat ramainya kegiatan ini. Substansi dari kegiatan harus dijelaskan, terutama bagaimana kita mengikuti sikap dan keteladanan Nabi Muhammad SAW,” kata Musthofa.
Ia juga melihat Ampyang Maulid memiliki peluang untuk memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat, khususnya dari sisi ekonomi. Keramaian festival dapat dimanfaatkan sebagai ruang promosi dan pemasaran bagi pelaku UMKM.
Menurut Musthofa, potensi yang ada di setiap desa perlu dipetakan sehingga pengembangan desa tidak hanya berorientasi pada kegiatan seremonial, tetapi juga mampu menciptakan kekuatan ekonomi dan wisata.
“Jangan hanya sekadar ada desa wisata, tetapi potensi-potensi desa harus dipetakan. Nantinya bisa dikerjasamakan mulai dari kabupaten, provinsi sampai pusat,” ujarnya.
Ia turut menyoroti keberadaan Masjid Wali At-Taqwa yang memiliki nilai sejarah dan budaya. Potensi tersebut dinilai dapat dikembangkan bersama tradisi Ampyang Maulid untuk memperkuat wisata religi dan budaya di Kabupaten Kudus.
Musthofa juga mengingatkan pentingnya menanamkan filosofi Gusjigang kepada generasi muda. Nilai tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berdagang, tetapi juga perilaku dan akhlak yang baik.
“Generasi muda jangan hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi perilaku, sikap dan keteladanan Nabi harus benar-benar dipegang. Pemimpin masa kini tanpa memberikan teladan yang baik bukan lagi seorang pemimpin,” tegasnya. (J05/A01)










