Festival Bulusan Kudus Hadirkan Gebrakan Baru, Tahun Ini Gratis Tanpa Tiket Masuk

- Jurnalis

Selasa, 24 Maret 2026 - 13:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Festival Kirab Budaya Bulusan di Kabupaten Kudus. (Foto:J05)

Festival Kirab Budaya Bulusan di Kabupaten Kudus. (Foto:J05)

Jurnalpantura.id, Kudus – Gebrakan baru akan dilakukan dalam Tradisi Bulusan di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus pada tahun 2026.

Festival budaya yang selama ini menjadi magnet wisata saat Lebaran Ketupat tersebut dipastikan akan digelar tanpa tiket masuk alias gratis bagi seluruh pengunjung.

Ketua Panitia Gebyar Festival Budaya Bulusan 2026, Nor Kholis, mengungkapkan bahwa kebijakan ini menjadi yang pertama kalinya diterapkan.

Jika pada tahun-tahun sebelumnya pengunjung dikenakan tiket masuk sebesar Rp 10 ribu, maka tahun ini masyarakat dapat menikmati seluruh rangkaian acara tanpa dipungut biaya. Ia optimistis kebijakan ini akan meningkatkan jumlah pengunjung.

“Kita buka gratis tanpa loket tiket, prediksi kami juga akan lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya,” ujar Nor Kholis saat dikonfirmasi, Selasa, 24/3/2026.

Rangkaian Gebyar Festival Budaya Bulusan akan dimulai pada Jumat malam, 27/3/2026, dengan agenda Kenduren Bulusan di Balai Bowo Leksono, Kompleks Bulusan, Dukuh Sumber, Desa Hadipolo.

Kegiatan ini diisi dengan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur sekaligus pembuka rangkaian tradisi.

Baca Juga :  Lini Belakang Rapuh, Persiku Kudus Tumbang 2-4 atas Deltas FC Akibat Krisis Center Back

Puncak acara akan digelar pada Sabtu pagi, 28/3/2026, dengan berbagai kegiatan budaya seperti kirab bulusan, prosesi memberi makan bulus, hingga pentas wayang.

Selain itu, kemeriahan acara juga didukung dengan hadirnya pasar malam yang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.

Tradisi Bulusan sendiri memiliki akar sejarah yang kuat dan sarat nilai legenda. Konon, tradisi ini bermula dari kisah dua santri bernama Umara dan Umari, murid Mbah Dudo, yang dikutuk menjadi bulus oleh Sunan Muria karena mencabut benih padi pada malam hari.

Kisah tersebut kemudian berkembang dan diwariskan secara turun-temurun hingga menjadi tradisi yang terus dilestarikan.

Tak hanya menghadirkan ritual budaya, festival ini juga diramaikan dengan pasar UMKM yang diikuti ratusan pelaku usaha beragam produk. Mulai dari kuliner, aksesoris, perlengkapan rumah tangga, dan lainnya.

Pasar tersebut telah dibuka sejak hari pertama Lebaran dan akan berlangsung hingga puncak acara, memberikan peluang bagi masyarakat untuk mempromosikan produk lokal sekaligus menggerakkan perekonomian daerah. (J05/A01)

Berita Terkait

Guyang Cekathak di Lereng Muria, Warga Colo Kudus Berdoa agar Hujan Segera Turun
Ampyang Maulid Loram Kulon, Tradisi Religi yang Menggerakkan Budaya dan Ekonomi Warga
Warga Kauman Kudus Jaga Tradisi Bubur Asyura Jelang 10 Muharram, Seribuan Porsi Dibagikan
12 Regu Tari Caping Kalo Melaju ke Final, Kudus Bersiap Pecahkan Rekor MURI
Resmi Jadi WBTb, Tradisi Minta Hujan “Guyang Cekathak” di Kudus Masih Lestari hingga Sekarang
Bulusan 2026 di Kudus Tanpa Tiket, Warga Antusias Rayakan Tradisi Kupatan
Rebutan Berkah di Sewu Kupat Muria, Warga Padati Taman Ria Colo
Ada Makna Dibalik Kirab Kerbau Bule Sebelum Pesta Lomban Jepara
Berita ini 162 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 13:35 WIB

Guyang Cekathak di Lereng Muria, Warga Colo Kudus Berdoa agar Hujan Segera Turun

Selasa, 25 Agustus 2026 - 17:57 WIB

Ampyang Maulid Loram Kulon, Tradisi Religi yang Menggerakkan Budaya dan Ekonomi Warga

Rabu, 24 Juni 2026 - 18:08 WIB

Warga Kauman Kudus Jaga Tradisi Bubur Asyura Jelang 10 Muharram, Seribuan Porsi Dibagikan

Jumat, 15 Mei 2026 - 15:01 WIB

12 Regu Tari Caping Kalo Melaju ke Final, Kudus Bersiap Pecahkan Rekor MURI

Jumat, 24 April 2026 - 14:59 WIB

Resmi Jadi WBTb, Tradisi Minta Hujan “Guyang Cekathak” di Kudus Masih Lestari hingga Sekarang

Berita Terbaru