Jurnalpantura.id, Kudus – Suasana khidmat menyelimuti Stadion Wergu Wetan pada pelaksanaan Salat Iduladha 1447 H, Rabu 27/05/2026.
Momen ini terasa kian bersejarah dan emosional bagi warga Kudus, karena menjadi Salat Ied terakhir yang digelar di stadion kebanggaan tersebut sebelum dibongkar total untuk dibangun ulang menjadi fasilitas yang lebih megah dan modern.
Dalam kesempatan istimewa ini, Ustadz Dr. Ahmad Zaini, Lc., M.Si. bertindak sebagai khatib. Ia menyampaikan khotbah menyentuh hati yang mengaitkan kisah abadi Nabi Ibrahim AS dengan realitas kehidupan modern kita saat ini, tantangan era smartphone dan media sosial.
Dalam khotbahnya, Dr. Ahmad Zaini menekankan bahwa kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS bukan sekadar sejarah moral, melainkan potret tingkat spiritualitas tertinggi.
“Ketaatan dan ketundukan mutlak kepada Allah SWT adalah inti dari seluruh ibadah kurban,” katanya.
Beliau mengutip Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 171, mengingatkan umat agar tidak menjadi seperti kaum yang ikut-ikutan tanpa pemahaman mendalam.
”Puncak spiritualitas seseorang tercermin dari puncak ketaatannya kepada Sang Pencipta. Nabi Ibrahim mengajarkan kita arti keikhlasan tanpa batas,” ujar Dr. Ahmad Zaini.
Ada hal menarik yang digarisbawahi oleh khatib terkait proses penyembelihan Nabi Ismail. Nabi Ibrahim tidak mengeksekusi perintah tersebut secara otoriter.
Sebaliknya, beliau menunjukkan kecerdasan luar biasa dengan membuka ruang dialog bersama putranya.
”Nabi Ibrahim mengajak anaknya berdiskusi, meminta pendapat Ismail dengan penuh kasih sayang. Ini adalah pelajaran parenting dan komunikasi yang luar biasa bagi kita semua,” tambahnya.
Lebih lanjut, Dr. Ahmad Zaini mengingatkan bahwa hakikat kurban jauh melampaui ritual menyembelih hewan dan membagikan dagingnya.
“Hewan kurban adalah simbol dari sifat-sifat kebinatangan, hawa nafsu, dan tipu daya setan yang harus dikikis dari dalam diri,” terangnya dihadapan jamaah Salat Iduladha.
”Iduladha bukan hanya menyembelih hewan, tapi menyembelih ego pribadi, kesombongan, dan sifat mementingkan diri sendiri,” tegasnya.
Khatib juga memberikan refleksi yang sangat relevan dengan zaman sekarang. Di era gempuran smartphone dan media sosial, manusia justru kerap terjebak menjadi makhluk yang anti-sosial dan sangat individualis. Kita sering kali lebih peduli pada interaksi digital dibanding tetangga sebelah rumah.
Melalui ibadah kurban, umat Islam diingatkan untuk mengembalikan kepedulian sosial yang nyata.
”Kurban membawa pesan keadilan sosial dan solidaritas. Tidak boleh ada sekat antara si kaya dan si miskin. Marilah Iduladha ini kita jadikan momentum untuk aktif di dunia nyata, bukan hanya eksis di media sosial,” ajak Dr. Ahmad Zaini di hadapan ribuan jemaah.
Khutbah yang sarat makna ini menjadi kado perpisahan yang indah bagi Stadion Wergu Wetan lama. Ke depan, ruang publik ini memang akan berubah wajah menjadi lebih modern.
Namun, pesan keadilan sosial, kerukunan, dan hilangnya sekat sosial yang menggema di rumput stadion hari ini, diharapkan tetap abadi di hati masyarakat Kudus. (J02/A01)










