Jurnalpantura.id, Kudus – Seorang janda di Kabupaten Kudus terpaksa tinggal di gubuk sederhana di tepi sungai bersama anak bungsunya yang telah putus sekolah sejak dua tahun lalu.
Kondisi tersebut terjadi akibat keterbatasan ekonomi yang dialaminya setelah kehilangan sumber penghasilan tetap.
Siti Sumanah (58) kini menempati gubuk berdinding terpal dan beratap esbes yang jauh dari kata layak. Selama lima bulan terakhir, ia harus bertahan menghadapi panas terik di siang hari dan dinginnya malam demi tetap memiliki tempat berteduh.
Untuk menyambung hidup, Siti berjualan makanan dan minuman seadanya. Penghasilan yang diperoleh tidak menentu, bahkan sering kali hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi ekonomi yang sulit juga berdampak pada pendidikan anak bungsunya. Anak tersebut terpaksa berhenti sekolah saat masih duduk di bangku kelas 7 SMP karena tidak adanya biaya dan harus membantu ibunya bekerja.
“Anak putus sekolah pas kelas 7 SMP, ini sekitar dua tahunan. Sempat bantu saya kerja di warung sate, tapi sekarang diberhentikan karena pengurangan karyawan,” ujar Siti saat ditemui, Sabtu, 2/5/2026.
Siti mengungkapkan bahwa sebelumnya ia tinggal di rumah yang layak di Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog.
Namun, akibat persoalan warisan, rumah tersebut dijual dan hasilnya digunakan untuk membeli sebidang tanah seluas 37 meter persegi di Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae.
Karena tidak memiliki biaya untuk membangun rumah permanen, Siti hanya mampu mendirikan gubuk sederhana di atas tanah tersebut. Ia juga harus menghadapi kenyataan pahit setelah suaminya meninggal dunia pada November 2025 akibat stroke.
Mendengar kondisi tersebut, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris bersama Wakil Bupati Bellinda Birton turun langsung memberikan bantuan berupa sembako, kasur, selimut, hingga material bangunan.
Pemerintah daerah juga berencana membangun hunian sementara yang lebih layak serta memasukkan Siti sebagai prioritas penerima bantuan Rumah Sederhana Layak Huni (RSLH).
“Karena sungai ini kan wilayahnya provinsi, nanti kita koordinasi dengan BBWS agar lokasinya bisa aman untuk ditinggali,” tambahnya.
Pihaknya juga mengupayakan agar anaknya dapat kembali melanjutkan pendidikan dengan pendampingan Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) serta Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kudus.
“Tadi katanya mau lagi kerja untuk sekolah, nanti di sekolah lanjutan (SMA/SMK) tapi mintanya yang siang biar pagi bisa bantu orang tua untuk bekerja, nanti biar dibantu bareng-bareng,” tuturnya. (J05/A01)










